Kamis, 07 Mei 2015

Day 4 Paris - Amsterdam (Euro Trip 2015)

Notre Dame
Hari ini merupakan hari terakhir kami di Paris, sebelum kami melanjutkan perjalanan ke Amsterdam. Berhubung perjalanan ke Amsterdam menggunakan bus malam, kami masih punya waktu seharian untuk keliling kota Paris. Sebelum mutar-mutar kota kita check out dulu dari hotel dan menitipkan koper ke resepsionis. Hari ini rencananya tempat pertama yang kita tuju adalah gereja Notre Dame. Dari stasiun Gare du Nord kita naik metro menuju gereja Notre Dame.

Sebelum menuju gereja Notre Dame kita sempat keliling dulu daerah sekitar stasiun metronya, ternyata banyak penjual souvenir dan makanan halalnya. Harga-harga souvenir didaerah ini relatif murah hampir sama dengan harga souvenir yang dijual di daerah Montmartre. Jadi saran saya, kalo di Paris beli oleh-olehnya di sekitaran Notre Dame atau di Montmartre. Melihat kebab dan kentang goreng perut jadi laper, sedangkan sebelumnya uda makan nasi sebelum berangkat he..he.. Nanti pas pulang kita beli, tekadku dalam hati. Kita sempat foto di sebuah landmark, tapi lupa namanya apa. 
Landmark yang kita temui ketika menuju Gereja Notre Dame
On the way to Notre Dame

Sesampainya di depan Gereja Notre Dame, kita mulai celingak celinguk cari korban buat motoin kita berdua he..he.. Liat ada mas-mas lagi jalan sendirian, dari tampangnya ketahuan wajah asia. Suami seperti biasa minta tolong dalam bahasa Inggris buat fotoin kita berdua. Saya langsung nanya dengan bahasa Indonesia, dari Indonesia ya mas? (kepedean). Eh tebakan saya benar, dia langsung jawab, iya mbak. Akhirnya obrolan kami berlanjut tentang perjalanan ke Eropa masing-masing. Dia ternyata mahasiswa jurusan Sastra Perancis yang menang perlombaan, mendapatkan hadiah ke Perancis. Selama disana dia sudah keliling kota-kota di Perancis untuk mengasah kemampuan bahasa Perancis. Senang bertemu orang se tanah air dan bisa berbagi cerita, tapi lupa euy nama masnya. Sedangkan uda kenalan dan cerita ini itu he..he.. Berikut foto-foto kita di Notre Dame.
Liat antrian masuk dibelakang saya.

Ikutan antri yuk..

Yang suka baca buku Dan Brown tunjuk tangan
Setelah puas foto-foto dihalaman gereja Notre Dame ini, saya lanjut mencari titik nol kota Paris yang ada di halaman gereja ini. Lucunya ga ada satu orang pun yang sadar dan ngeh akan hal ini, sampai saya menemukan tanda zero point kota Paris tersebut. Jadi tanda ini diabaikan saja oleh orang yang lalu lalang di halaman Notre Dame. Bang Tomi aja sampai terbengong-bengong saya tau hal ini dan menemukannya. Yap, membacalah sebanyak mungkin dan kumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang tempat yang bakal kita kunjungi sehingga kita tau lebih banyak. Setelah saya foto-foto di tanda point zero kota paris dan negara Perancis ini barulah orang-orang sekitar saya ngeh akan hal ini. Dan ikut-ikutan berfoto ria disini he..he..
Point Zero France

Titik nol kota Paris di Notre Dame
Puas foto-foto diluar saatnya kita masuk ke dalam katedral bersejarah ini, tapi tetap mesti antri ya pemirsa. Untung antriannya cepat bergerak maju, jadi berasa ga terlalu lama kita antrinya. Masuk ke gereja ini gratis, jadi jangan sampai ga masuk dan lihat dalamnya, rugi. Di dalam gereja kita bisa tau sejarah pembuatan gereja ini dari awal sampai akhir. Dan sama seperti di Gereja Basilique du Sacre Coeur di dalam gereja Notre Dame ini juga ada mesin pencetak medali bergambar gereja Notre Dame. Dengan memasukkan koin sebesar 2 Euro, kita bisa mencetak medali dengan gambar yang kita inginkan, biasanya ada 2-3 pasang pilihan gambar.
Di dalam Gereja Notre Dame

Sejarah pembangunan Gereja Notre Dame
Dari Notre Dame kami lanjut ke Menara Eiffel, belum puas menikmatinya kemaren, kami putuskan kembali ke Eiffel hari ini. Kami turun di stasiun metro Champ de Mars. Eits jangan buru-buru jalan ke Eiffel, karena begitu keluar dari statiun ini kita bakal ketemu Pont de Bir Hakiem. Mungkin banyak yang ga tau atau ga ngeh apa itu Pont de Bir Hakiem. Pont de Bir Hakiem ini merupakan jembatan besi tua yang dibangun untuk menyebrangi sungai Seine sejak dulu. Yang bikin jembatan ini istimewa adalah sering dijadikan tempat syuting film-film terkenal. Termasuk film Inception yang diperankan oleh Leonardo Di Caprio. Berikut penampakan jembatan tua Pont de Bir Hakiem.
Pont de Bir Hakiem berhadapan dengan menara Eiffel.

Leonardo Di Caprio versi Padang he..he..

Eiffel from Pont de Bir Hakiem
Ketika sampai dikaki menara Eiffel kita melihat antrian untuk naik ke atas menara tidak sepanjang hari Sabtu lalu. Tanpa pikir panjang kami ikutan antri, karena teringat pertanyaan Papa dihari pertama sampai di Paris yaitu "sudah naik ke Eiffel belum nak?" Hal itu tentu memotivasi kami buat naik, walaupun diawal sempat hopeless liat atriannya. Kurang lebih 1 jam antri kita sampai didepan kounter penjualan tiketnya. Selama antri, angin dingin yang menusuk tulang menyapu tubuh benar-benar menyiksa, tapi demi naik ke atas menara ini kita tahan jua he..he.. Di atas layar kounter disebutkan level 3 (puncak tertinggi) Eiffel sudah tidak bisa dinaiki karena penuh. Oke kita beli tiket yang sampai level 2 seharga 9 Euro perorang. 

Untuk naik ke menara ini ada 2 pilihan dengan lift atau dengan tangga, naik tangga antriannya jauh lebih pendek, dan lebih murah, tapi ga kuat boo.. Yang mau coba silakan saja he..he.. Kita sih milihnya naik lift. Walau ga naik sampai level 3, kami uda sangat puas dengan pemandangan dan sensasi yang dirasakan ketika berada diatas menara paling keren di dunia ini. Dari atas menara ini kita bisa melihat pemandangan kota Paris yang teratur dan indah. Tapi siap-siap menahan dingin ya sesampai diatas, karena anginnya lebih kencang dan lebih dingin..brr..
Pemandangan kota Paris dari atas menara Eiffel.

Alhamdulillah..

Teropong yang ada di Eiffel level 2

You and Me
Ada atraksi baru dan menarik di level 1 menara Eiffel yaitu Glass Floor, alias lantai kaca. Dengan lantai ini kita diuji keberaniannya. Wah ngeri-ngeri sedap rasanya pas berdiri diatas glass floor ini. Dari lantai kaca ini kita bisa melihat ke bawah kaki menara Eiffel dan melihat orang-orang yang sedang antri di bawah seperti semut. Karena waktu di Auckland (New Zealand) uda pernah mencoba berdiri diatas glass floor menara juga, jadinya di Eiffel siapa takut he..he..
Lihat antrian orang-orang bagai semut dibawah lantai kaca ini.

Enjoy the moment.

Eiffel Tower Level 1.
Setelah puas diatas menara Eiffel kita balik ke hotel, sebelum balik sempatin makan ayam goreng + kentang goreng + nasi (yang dibawa di dalam kotak) di kedai kebab halal, memenuhi tekad tadi pagi he..he.. Sampai di hotel, kami istirahat beberapa saat di lobby sambil ngenet dengan wifi gratis (biasa update status di sosmed). Malamnya kami keluar dari hotel dengan seluruh barang bawaan menuju terminal bus Porte Maillot Coach Park dengan metro. Sempat kebingungan sesampai di stasiun untuk menuju ke terminal ke arah mana. Wah stress banget karena waktu mepet takut ketinggal bus ke Amsterdam. Nanya ke sana kemari, akhirnya ketemu juga itu terminal. Memang ga keliatan pas keluar dari stasiun metro, ternyata ada dibalik gedung. Syukurlah kita ga telat, dan masih ada waktu beberapa menit sebelum berangkat. Kita uda beli tiket Mega Bus ini sebelum berangkat melalui online saat masih Indonesia. Harga tiket yang kita dapat Paris-Amsterdam seharga 12 Poundsterling perorang. Kenapa poundsterling karena Mega Bus ini memang perusahaan transportasi milik Inggris.

Karena ini bus milik Inggris jadi stirnya dikanan sama seperti di Indonesia, beda dengan bus atau mobil eropa lainnya yang stirnya rata-rata ada di kiri. Model busnya bus tingkat (doubel decker), penumpang bisa memilih tempat duduk yang ada di atas sedangkan bagian bawah khusus bagasi penyimpanan barang. Sekitar 20 menit sebelum berangkat kita sudah diperbolehkan naik keatas bus, dan memilih sendiri kursi yang kita inginkan. Kursi paling pewe menurut saya adalah di lantai atas paling depan, karena bisa naikin kaki sesukanya ke arah jendela mobil dan pemandangannya juga lepas. Tapi berhubung ini perjalanan malam dan saya niatnya mau tidur saja saya milih kursi di tengah lantai atas. Kenapa ga milih paling depan, karena takut ga bisa tidur nantinya ngeliatin jalan mulu berasa jadi supir kan jadi matanya awas he..he.. Di dalam bis ini juga tersedia fasilitas wifi dan colokan listrik.
Megabus
Perjalanan kita ke Amsterdam dimulai tepat jam 11.30 PM kami berangkat menuju Amsterdam. Selama perjalanan kita juga berhenti di Belgia, tapi saya ga turun karena asyik tidur. Yah secara fisik saya uda pernah ke Belgia tapi ga jalan-jalan, numpang lewat doang he..he.. Nanti deh kalo ada rezeki ke Eropa lagi kita jalan-jalan ke Belgia..Amin. Kita baru akan tiba di Amsterdam keesokan harinya. Penasaran bagaimana perjalanan saya di Amsterdam, ditunggu postingan saya berikutnya ya..

Semoga bermanfaat dan jangan takut traveling dengan cara kalian sendiri..!!!

Selasa, 05 Mei 2015

Day 3 Versailles - Paris (Euro Trip 2015)

Hari ini kita rencananya akan ke Istana Raja Perancis di Versailles. Untuk menghemat waktu agar tidak perlu antri kami sudah membeli tiket masuk istana ini melalui online saat masih di Indonesia. Beli tiket online di website resminya yaitu www.chateauversailles.fr. Karena hari sebelumnya uda keliling kota Paris, hari ini kita agak santai.
Versailles - picture by me

Baru keluar dari hotel jam 10 pagi, sebelum keluar kita sempat nanya ke resepsionis hotel apakah tiket t+ kami bisa dipakai untuk ke Versailles? Dia bilang ga bisa karena Versailles itu uda diluar kota Paris, jadi mesti beli tiket RER terpisah di stasiun. Oke kita berangkat ke versailles dari stasiun gare du nord, tiket kereta RER nya 3,55 Euro perorang. Kereta RER untuk ke Versailles bentuknya kereta bertingkat, kami milih duduk di lantai 2 nya.

Sepanjang perjalanan kita asyik melihat suasana pemukiman penduduk yang asri di pinggir kota Paris. Nah saat diatas kereta saya baru ngeh kalau jam tangan saya menunjukkan angka yang berbeda dengan jam yang ada di stasiun. Di setiap stasiun yang kami lewati jam menunjukkan pukul 11 lewat, di jam tangan saya yang sudah saya stel kemaren, menunjukkan pukul 10 lewat. Apa yang salah ya, perasaan jam tangan saya baik-baik aja deh. Akhirnya saya ubah dan stel lagi jam tangan saya ke angka 11 lewat. Setelah tiba di Milan saya baru tau jawabannya, kalau ternyata perubahan jam yang saya alami karena Eropa mengalami yang namanya Daylight Saving Time/Summer Time. Yaitu waktu musim panas dimana waktu akan dimajukan 1 jam lebih awal dari waktu musim dingin untuk menyesuaikan waktu siang yang ada. Dan itu memang dilakukan pada hari Minggu terakhir di bulan Maret, yup tgl 29 Maret lalu bertepatan dengan hari kepergian saya ke Versailles itulah terjadi perubahan waktu di Eropa. Untung saya segera ubah jam tangan saya, kalau ga bisa kacau nih perjalanan he..he.. Jadi yang tadinya kita kira kita keluar jam 10 pagi, sebenarnya kita berdua baru keluar jam 11 he..he..

Sesampainya di stasiun Versailles langit mendung mulai lagi menggelayut, angin dingin berhembus, membuat kita buru-buru memakai sarung tangan karena ga tahan dengan dinginnya. Saat keluar dari stasiun ternyata tidak ada pengecekan atau scan tiket RER nya, jadi begitu keluar kereta langsung ke exit door yang plong tanpa palang. Pantesan pernah baca di salah satu blog bahwa kita bisa menggunakan tiket t+ untuk menuju Versailles dari Paris, karena tidak ada scan tiket saat keluar stasiun ini. Tapi ini tidak berlaku arah sebaliknya dari Versailles menuju Paris mesti beli tiket RER dengan harga yang sama 3,55 Euro, untuk bisa discan dan membuka palang saat naik kereta dari Versailles. Karena tiket t+ tidak berlaku di area Versailles dan pasti ga bisa buat buka palang masuk stasiunnya he..he..

Ikuti saja arah para turis yang sama-sama naik kereta dengan kita, rata-rata mereka juga menuju istana termegah di Perancis ini. Baru sampai di halaman istana ini kita langsung melongo melihat antrian manusia yang meliuk-liuk seperti ular anaconda raksasa. Langsung komen, "bang ini antrian beli tiket apa antrian masuk ya? mestinya kan kita ga antri lagi kan yah..kan uda ada tiket yg judulnya "skip the line".." Bang tomi langsung buka tiket online kita yang disana juga tercantum peta pintu masuk istana dimana kita katanya bisa "Skip the line". Masih bingung langsung menuju petugas yang lagi berdiri di sekitar antrian, nanya ini antrian apa? Lalu kita juga menunjukkan tiket masuk kita ke petugas tersebut. Dengan santainya si petugas nyuruh kita antri, ya begitulah pemirsa antrian panjang ini adalah antrian untuk masuk ke istana Versailles tersebut. Oh Tuhan..panjangnyo..ya sutralah ya maklum aja ini hari Minggu, kan memang uda dibilang weekend selalu rame.

Sempat make sure lagi ke orang yang antri didepan kita, sepasang bule asal Inggris ini juga mengiyakan ini antrian buat masuk, dia sendiri juga uda beli tiket online kayak kita. Pikiran dia dan kita sama, "Skip the Line" apaan masih antri sebegini panjang..penipuan publik nih he..he.. Pesan moralnya siapkan diri buat antri dan sediakan waktu yang panjang untuk masuk ke tempat-tempat wisata di Eropa ya guys. Walaupun uda prepare beli tiket secara online tetap antri buat masuknya.
Antrian..foto belum menampilkan yang sebenarnya
Kami antri lebih dari 1 jam untuk sampai didepan pintu masuk Istana ini. Apa yang kita lakukan selama antri dalam cuaca dingin dan berangin itu, jawabannya adalah makan dan foto-foto. Untung selalu siapin makanan dan cemilan didalam tas ransel si abang, jadi dimana saja laper bisa langsung makan dan ngemil. Liat kami buka sekantong cookies, si pasangan Inggris didepan kami tidak mau kalah buka sekantong chips, cewek asal Korea di belakang kami juga ga mau kalah buka coklat bersama teman2nya, mari makan teman-teman seperjuangan. Serukan, walaupun mesti antri, kita masih bisa nikmati suasana yang ada dan liat kelakuan berbagai macam turis manca negara. Dan untung selama kita antri masih mendung dan belum hujan. Oya semakin siang antrian bakal semakin panjang, jadi datanglah lebih awal biar ga antri terlalu lama.

Setelah kedinginan dalam antrian panjang tadi, kami akhirnya masuk juga ke Istana Versailles yang megah itu. Impian SMP untuk bisa lihat tempat tinggalnya si Raja Louise XVI ini akhirnya terwujud. Sebelum masuk kita diberikan perangkat audio seperti HP yang bisa kita gunakan untuk mengetahui setiap ruangan yang kita masuki dalam istana ini. Karena tidak ada pilihan bahasa Indonesia, mau ga mau pilih yang bahasa Inggris. Mulailah kami menikmati tiap sudut istana ini. Diawal kita akan disuguhi sejarah pembangunan istana ini dari awal dibangun pada masa raja Louise XIV sampai Louise XVI, dalam ruangan yang sama juga terdapat silsilah keluarga kerjaan Perancis. Ruangan demi ruangan kita masuki, puncaknya saat kita tiba di Hall of Mirrors (Crystal Room) yang keren banget. Ruangan ini pada masa Louise XVI biasa digunakan sebagai ruangan untuk berpesta.
Baru masuk pekarangan setelah dari entry door

Silsilah Raja-Raja Perancis
Nanyain toilet he..he..
Crystal Room
Oya ada satu hal yang berkesan banget dan saya sesali sampai sekarang saat berada di Istana Versailles yaitu tidak membeli parfum yang dijual di bagian souvenir istana ini. Parfumnya enak banget. Jadi saat kita mengelilingin istana beberapa kali kita akan bertemu bagian penjualan souvenir. Nah di bagian ini saya melihat ada parfum yang konon katanya wewangian yang disukai oleh Ratu Marie Antoinette. Cobain semprotin beberapa kali ke jaket saya testernya, hmm..super duper enak wanginya.. Sempat pengen beli, tapi terabaikan niat itu karena asyik keliling istana. Lagian saya pikir parfum kayak gini paling ga tahan wanginya. Tapi ternyata wangi parfumnya ga ilang-ilang dari jaket saya sampai jaket itu dicuci. Nyesel deh ga beli waktu itu he..he.
Kamar Marie Antoinette
Konsentrasi mendengarkan 2 audio sekaligus..ngaco..
taman versailles
Ga jadi masuk ke taman karena hujan
Sore hari kita baru keluar dari Istana Versailles ini. Udara makin dingin dan sedikit gerimis. Diluar pelataran Istana saya melihat seorang bapak-bapak keturuan India yang menjadi patung hidup berdiri sendirian di tengah gerimis dan angin yang dingin. Jujur saya sedih melihatnya, karena suhu dingin dan berangin tidak ada orang yang tertarik melihatnya. Semua orang berjalan terburu-buru ke arah bangunan agar terhindar dari angin dan hujan. Saya sendiri juga berjalan jauh dan berusaha berlindung dari terpaan angin. Berat sekali hidup di negeri ini, udara dingin dan biaya hidup yang tinggi memaksa para imigran ini melakukan hal-hal seperti itu untuk bertahan hidup. Dalam hati saya bersyukur terlahir di negeri tropis yang hangat, nyaman dan serba murah. Sambil jalan saya berdoa semoga bapak itu mendapatkan rejeki yang banyak hari ini. Amin.
Sempat foto di depan patung Louise XIV ini sebelum balik ke stasiun
Sesampainya di stasiun saya mulai diskusi dengan suami, apakah masih mau lanjut jalan atau balik ke hotel. Saya bilang kalau mau lanjut saya mau ke Basilique du Sacre Coeur kebetulan gereja ini searah dengan hotel kita.Suami setuju, jadi kita lanjut sore itu ke Basilique du Sacre Coeur.

Sayang sekali sampai di Basilique du Sacre Coeur hujan dan berangin, dinginnya ga usah ditanya. Kita cuma sempat foto-foto sebentar lalu masuk ke dalam gereja buat hangatkan badan sekalian liat arsitektur gereja tua ini. Gereja ini unik banget karena memiliki kubah kayak Mesjid. Dulu sebelum ada menara Eiffel dari atas wilayah Basilique du Sacre Coeur atau dikenal juga dengan sebutan Montmartre inilah rakyat Paris melihat kota Paris dari ketinggian. Karena memang gereja ini terletak diketinggian dan dari tangga atau pelataran gereja kita bisa melihat kota Paris, keren deh. Buat yang males naik tangga disediakan funicular untuk naik atau turun ke Basilique du Sacre Coeur dengan membayar seharga 1 tiket t+. Berikut foto-foto kita di Basilique du Sacre Coeur.
Paris dari depan Basilique du Sacre Coeur

Sayang sekali hujan dan berkabut

Basilique du Sacre Coeur
Setelah puas melihat gereja ini kami lanjut mengitari wilayah Montmartre. Di sini banyak toko souvenir yang cukup murah harganya. Rata-rata penjualnya imigran Timur Tengah atau India. Kami ga terlalu lama disini karena hujan, jadinya ga banyak hal yang bisa diceritakan. Dari Montmartre kami akhirnya balik ke hotel dengan bus.

Next saya akan cerita pengalaman kami naik ke atas menara Eiffel..Seruuu..!!!

Minggu, 03 Mei 2015

Day 2 Paris (Euro Trip 2015)

Kami mendarat di Paris sekitar jam 7 pagi waktu Perancis, saat mendarat pilot mengatakan cuaca cukup baik dengan suhu udara 7 derajat Celcius. Langsung minta suami buat ambilin jaket didalam tas. Liat kiri kanan bule-bule juga uda pada pasang jaket, wah dinginnya kayak apa ya..sambil penasaran.. Saat pesawat mendarat di Charles de Gaulle (CDG) Airport Paris, Matahari tidak terlihat, cuaca berkabut dan jarak pandang terbatas. Kami berdua saling nyeletuk, wah kita uda sampai Paris (masih percaya ga percaya) he..he..

Bismillahirrahmanirrahim..itu lah kalimat pertama yang kami ucapkan ketika keluar pesawat, berdoa dan berharap semoga perjalanan ini senantiasa dalam lindungan Tuhan. Kesan ketika nyampe di Charles de Gaulle adalah ini bandara rame dan sibuk banget, terasa ketika melihat antrian boarding yang panjang dan kami juga mesti antri panjang saat pengecekan Imigrasi. Karena pernah baca katanya pas di Imigrasi airport ini mesti siapin dokumen tiket pulang, print-an booking hotel dll, ya uda kita siapin dokumennya. Tapi Alhamdulillah kita berdua ga ditanya macam-macam, si petugasnya malah liat visa sekilas lalu scan sambil ngobrol sama petugas lain disebelahnya. Paspor kita di cap, beres kita keluar deh dari bagian imigrasi. Welcome to Paris buat kita berdua...

Setelah keluar dari bagian imigrasi kami segera menuju bagian pengambilan bagasi. Disinilah saya pertama kali melihat yang namanya pencurian di Eropa. Saat suami saya sedang asyik menunggu koper kami di pinggir belt, saya menunggu dengan troli tidak jauh dibelakangnya. Disamping saya ada troli yang berisi tas dan koper orang lain. Saya tau siapa pemiliknya, pemiliknya berada disamping suami saya menunggu kopernya yang lain. Keadaan benar-benar riuh dan ramai, saat itulah tiba-tiba ada seorang pemuda yang menatap ke arah saya. Saya sempat menatap balik dan saya tau dia berambut hitam dengan gaya yang cukup keren. Tiba-tiba pemuda itu mengambil salah satu koper besar dari atas troli di samping saya (yang memang tidak dijaga oleh pemiliknya). Saya melihat hal itu dan melihat juga pemuda itu pergi ke exit door. Jujur saya langsung kepikiran ini teman/saudara yang punya atau bukan ya.

Beberapa saat kemudian pemilik troli disamping saya kembali ke trolinya dengan membawa koper lain, dia langsung ngeh kalau koper besarnya hilang dan langsung panik. Disitu saya langsung tau kalo pemuda yang ambil koper tadi maling. Ya Tuhan..saya benar-benar menyesal tidak segera memberitahu pemilik troli disamping saya, karena saya pikir itu saudara atau temannya. Saya langsung menjelaskan dengan bahasa Inggris kalau saya melihat ada seorang pemuda yang mengambil kopernya dan pergi ke arah exit door. Parahnya lagi laki-laki yang kehilangan koper ini tidak bisa berhasa Inggris dia sibuk nyorocos dengan bahasa Perancis ke saya, untunglah ada anak kecil yang jadi penerjemah antara kami berdua. Jujur saya langsung syok, baru aja nyampe uda melihat & jadi saksi mata gimana parahnya maling dan copet di Eropa. Warga aslinya saja jika tidak waspada dan hati-hati bisa kemalingan dan itu posisi masih didalam airport yang mestinya aman karena banyak petugas keamanannya tapi masih bisa kejadian hal seperti ini. Saya langsung bilang ke Suami, kita mesti benar-benar waspada ya sayang, saling ingat dan memperhatikan dimanapun berada. Ya Tuhan, lindungilah kami selalu.

Sempat duduk nenangin diri dulu sebelum akhirnya keluar dari airport. Oke saatnya pertualangan dimulai. Pertama yang kami lakukan adalah mencari tempat penjualan tiket carnet. Tiket Carnet ini berisi 10 tiket t+ yang bisa kita gunakan untuk naik metro ataupun bus selama di Paris. Karena sudah mengumpulkan informasi sebelumnya, kami dari terminal 1 CDG (Charles de Gaulle), langsung menuju terminal 2 CDG dengan menggunakan shuttle train airport (gratis).  Sesampai di terminal 2 kami langsung masuk ke kantor SNCF tempat penjualan tiket carnet atau tiket metro lainnya, disana sudah ada beberapa orang yang antri.

Kami membeli 2 tiket carnet (berarti ada 20 tiket t+) dengan harga 1 carnet 14.40 Euro untuk dipakai selama jalan-jalan di Paris. Nah untuk menuju Gare du Nord tempat hotel kami berada, kami memakai bus no.350 dari CDG airport. Rata-rata orang naik kereta RER dari CDG airport ke Gare du Nord, tapi kami memilih naik bus karena lebih murah dan ingin melihat kota selama diperjalanan menuju gare du nord. Perbandingannya, dengan naik kereta RER kita mesti beli tiket terpisah dari carnet ticket, yang harga tiketnya 9 Euro per orang kalau 2 orang berarti 18 Euro. Sedangkan dengan bus 350 kita bisa menggunakan 3 tiket t+ (1 t+ nilainya 1,4 Euro) jadi perorang biayanya 4,3 Euro, berdua cuma 8,6 Euro lumayan jauh kan bedanya he..he.

Setelah mendapatkan tiket carnet, kita langsung nanya kepada petugas penjual tiket dimana kami bisa naik bus 350. Petugasnya dengan ramah mengarahkan kami ke terminal 3 tempat terminal bus berada. Cuss langsung kita naik shuttle train lagi menuju terminal 3, letak terminal busnya di lantai dasar, jadi kita mesti turun 1 lantai setelah keluar dari shuttle train. Pas di shuttle train kita berdua baru ngeh kalo setiap ngomong keluar asap dari mulut kita saking dinginnya, wah mulai deh kita lucu-lucuan berdua saling ngeluarin asap dimulut dengan segala rupa huaha..ha..

Nyampe terminal 3 sempat nanya lagi ke informasi tempat parkir busnya, setelah tau langsung kita menuju kesana dan busnya memang lagi ngetem manis nungguin penumpang. Karena dari tadi kita didalam ruangan kita ga ngeh kalo ternyata di luar sedang hujan, pantes suhunya drop n keluar asap dari mulut. Sambil berlari-lari kecil kehujanan kita menuju bus 350. Masuk bus langsung bayar dengan cara men-ceklek 6 tiket t+ untuk kita berdua. 5 menit kemudian bus berangkat dan asyiknya busnya sepi karena rata-rata orang naik kereta RER.

Sesampainya di gare du nord, kita langsung jalan menuju hotel. Sebelumnya kita uda mempelajari peta dan menghapal belokan serta nama jalan dari terminal bus gare du nord ke arah hotel, jadi ga buka peta lagi. Soalnya banyak yang menyarankan jangan buka peta dijalanan terutama di daerah-daerah rawan seperti gare du nord, untuk menghindari preman atau orang-orang yang berniat jahat. Alhamdulillah hotelnya gampang banget dicari karena berada dipinggir jalan besar dan tidak jauh dari stasiun gare du nord (stasiun dan terminal busnya sebelahan), ga salah deh pilih hotel ini. Kami menginap di hotel Cambrai yang terletak di jalan Boulevard Magenta Paris.

Karena sampai di hotel masih pagi sekitar jam 9 tentu kami belum bisa check in. Ya uda kita titip barang aja dulu, ganti baju dan bersih-bersih sebelum keliling kota Paris hari ini. Ngobrol-ngobrol dengan resepsionis hotelnya buat nanya rekomendasi dia, karena cuaca mendung dan sedikit gerimis resepsionis hotelnya menyarankan kami ke museum louvre aja dulu. Kalau ke Eiffel dia tidak menyarankan karena diluar dingin, mendung, dan gerimis. Mending ke louvre karena kita didalam museum jadi ga kena hujan. Setuju dengan saran si mas resepsionis, kita mutusin ke louvre dulu. Dari gare du nord kita pakai bus 42 ke tengah kota Paris, dan syukurnya halte bus 42 nya berada disamping hotel kami jadi ga perlu jauh-jauh jalan he..he.. Dari mas resepsionis juga kita dikasi tau nanti turun di halte concorde, dari sana uda dekat ke museum louvre nya.

Untuk naik bus 42 ini cukup membayar dengan 1 tiket t+ per orang. Oke kita naik bus 42 dan mulai menikmati kota Paris yang dindin mendung pagi itu. Setelah sampai di concorde, sempat nanya ke beberapa orang arah buat ke louvre. Setelah tau arahnya kita jalan menuju louvre, ternyata dari concorde kita lewat taman Jardin des Tuileries dulu, ketemu Arch de Triomphe du Carrousel baru didepannya terlihat bangunan museum louvre yang keren itu. Berikut foto-foto perjalanan kita dari concorde ke museum louvre.
Langit kelabu di Concorde
Saya di depan Arch de Triomphe du Carrousel

Di depan Museum Louvre
Sesampai di halaman louvre, kita uda melihat antrian yang mengular untuk masuk ke dalam museum tersebut. Nah karena sebelumnya uda dikasi tau ma teman kantor si abang bahwa pegawai Total (Oil Company milik Perancis) bisa masuk gratis ke louvre kita mau coba hal ini. Yap suami saya pegawai perusahaan minyak milik Perancis ini, jadi dia bisa masuk gratis ke museum louvre. Yang dibilangkan hanya pegawainya saja, bagaimana dengan saya si istri...he..he..saya ga kehabisan ide, dari awal saya uda bawa kartu berobat Total milik saya, nah di kartu itu kan ada logo Totalnya juga, asumsi saya mereka juga ga pada ngerti bahasa Indonesia, jadi mau coba-coba masuk gratis pakai kartu berobat Total he..he.. 

Setelah foto-foto sebentar, kita lalu mendatangi salah seorang petugas penjaga pintu, buat nanya apakah kami bisa masuk dengan memperlihatkan kartu pegawai suami saya, dibawahnya ada kartu berobat milik saya. Si petugas tanpa mencek lebih lanjut langsung menunjuk ke pintu khusus priority entry ke kami. Pintu ini kosong cuma ada 1 petugas berbadan besar yang menjaga dibawah payung berwarna putih, ga da yang antri, berbanding terbalik dengan pintu sebelahnya yang penuh antrian panjang berliku manusia yang ingin masuk louvre. Kami menuju ke sana, lalu si petugas sempat nanya ke bang tomi, pegawai Total mana? Si abang jawab dari Indonesie, dengan senyum lebar dia mempersilakan kami masuk berdua. Rasanya wah banget pas jalan di pintu khusus priority itu sambil melirik ke arah antrian sebelah, maaf ya kita duluan..
Pintu khusus priority dan disampingnya antrian pintu umum.
Happy banget pas bisa masuk pintu piramid ini he..he..
Setelah masuk kita bingung mau masuk dari bagian yang mana karena ada beberapa bagian untuk masuk ke dalam museum besar ini. Dan untuk masuk itu masih ada pengecekan tiket lagi. Karena taunya mesti liat lukisan Monalisa kalau uda masuk Louvre, ya uda kita masuk melalui sisi yang ada lukisan Monalisanya. Saat masuk si abang langsung ngeluarin kartu pegawainya lagi, penjaganya cuma melihat sekilas lalu mempersilakan kami berdua masuk. Alhamdulillah bisa masuk ke louvre gratis, lumayan menghemat 30 Euro.
Karena tiket masuk Louvre per orang 15 Euro. Belum lagi ngantrinya, wah kita benar-benar beruntung bisa menghemat waktu dan uang. Berikut foto-foto kami didalam museum Louvre.

Mari belajar seni disini
Saya dan Monalisa

Bagian Arts de Islam di Louvre
Bagian sejarah Mesir
Dari Louvre kita lanjut jalan ke arah sungai Seine yang berada di samping kiri museum, niatnya mau lanjut ke Eiffel. Tapi sebelum ke Eiffel kita mampir dan nyebrang di pont de arts yaitu jembatan yang banyak gembok cintanya. Tapi sayang gembok diatas jembatan itu sudah ditutup dengan triplek oleh pemerintah setempat. Tujuannya agar jembatannya ga semakin rusak dan berat karena gembok-gembok yang dipasang tersebut. Tapi jangan sedih pas nyampe ujung jembatan ternyata gembok-gemboknya masih keliatan dan tidak ditutup triplek. Foto-foto deh disini, bagus lho suasana dan pemandangan di atas jembatan ini. Gembok-gembok yang dipasang juga lucu-lucu, ada yang segede gaban, ada yang niat banget bikin gembok dengan ukiran nama mereka berdua dll.
Kecewa karena gemboknya ditutup triplek
Wah ada yang ga ditutup ternyata he..he..
Silakan lihat gembok bermacam rupa
Puas di pont de arts kita lanjut naik bus ke Eiffel, untung cuaca sudah mulai terang dan langit biru mulai terlihat. Kami turun di halte champ de mars, dari sana sudah terlihat indahnya menara ini. Karena laper kami duduk di kursi taman champ de mars ini sambil buka makanan yang memang uda kami siapkan didalam tas. Wah asyiknya piknik ditaman dibawah menara paling keren di dunia he..he.. Puas-puasin deh foto disini.
Bersiap piknik dibawah menara Eiffel
Eiffel i'm in Love
Enjoy banget disini, dari sisi manapun Eiffel itu cantik difoto
Trocadero

Karena hari itu hari Sabtu, antrian untuk naik keatas Eiffel Tower benar-benar panjang, kita urungkan niat buat naik karena males antri panjang. Jalan ke arah Trocadero, lalu dari sana kita putuskan buat lanjut ke Arch de Triomphe. Di peta keliatannya ga terlalu jauh, jadi kita jalan kaki aja ke sana. Tapi ternyata lumayan jauh, apa mungkin karena kita uda kecapaian juga. Sesampainya di depan Arch de Triomphe gerimis mengundang, jadinya cuma foto-foto didepannya saja, lanjut kita ke Champs-Elysees buat bermalam minggu sambil window shopping masuk keluar toko he..he.. Dari ujung jalan Champs-Elysees kita naik lagi bus 42 buat balik ke Hotel, check in dan istirahat.
Arch the Triomphe
Champs-Elysees

Semoga informasinya bermanfaat..Next saya bakal cerita serunya masuk ke Istana Versailles Perancis..

Sabtu, 02 Mei 2015

Day 1 Batam - Paris (Euro Trip 2015)

Perjalanan dimulai siang hari, dari Batam kami (saya & suami) bertolak ke Singapura menggunakan kapal feri. Sampai di pelabuhan Harbourfront Singapura seperti biasa dengan MRT kami melanjutkan perjalanan ke Changi Airport. Pesawat Malaysia Airlines (MAS) yang membawa kami ke Kuala Lumpur (KL) berangkat jam 7 PM waktu Singapura. Sampai di Changi sekitar jam 4-5 PM kami langsung check in dan menyerahkan bagasi. Karena sebelumnya sudah webcheck-in jadinya kami bisa antri diantrian yang lebih pendek khusus bagi penumpang yang sudah melakukan webcheck-in. Setelah proses check in selesai, masuk deh ke transit area buat nunggu penerbangan. Paling enak kalau sudah berada di transit area Changi Airport, fasilitas yang memadai membuat kita betah menunggu. Kami memutuskan untuk sholat Ashar, lalu window shopping selama di transit area Changi Airport.

Changi Airport
Penampakan transit area Changi Airport
Bebas pijet kaki di kursi pijet Changi Airport
Jam 7 PM pesawat berangkat ke KL, karena penerbangan yang singkat kurang lebih 50 menit antara Singapura-KL kita cuma di kasi snack saat diatas pesawat. Rada kecewa sih, soalnya ngarep dikasi makan besar secara naik MAS kan he..he..(harapan tinggal harapan). Jam 8 PM uda nyampe KLIA (Kuala Lumpur International Airport). Karena pesawat ke Paris berangkat jam 11 PM, jadi kami nunggu beberapa jam di transit area KLIA. Dulu pernah lihat iklan KLIA ditv kayaknya ni airport keren, jadi kita ekspektasinya tinggi berharap fasilitasnya 11-12 dengan Changi. Pas nyampe KLIA ekspektasi kami langsung hancur berantakan, ni airport biasa aja. Fasilitasnya juga jauh dibawah Changi, ya sutralah kita nunggu sambil ngenet gratis aja. Ga lupa kita juga sholat di mushola airport ini. 

Suami lagi ngenet di KLIA, disitu kami dapat kabar meninggalnya Olga Syahputra.

Boarding Pass
Saat boarding sudah berasa beda suasananya, soalnya penumpangnya lebih banyak warga asing dari pada orang Asia. Dan rata-rata ngomongnya uda pake bahasa Perancis atau bahasa Inggris dengan aksen Perancis. Pas diatas pesawat kita baru ngeh ini pesawat full alias penuh, pupus harapan buat tidur lempeng diatas pesawat he..he.. Pesawat berbody besar Airbus A380 ini take off dengan mulusnya, malah si abang ga ngeh kalo pesawat uda mulai take off saking ga berasanya. Selama hampir 13jam diatas pesawat kerjaan kita kalo ga tidur, makan, main game atau nonton film tapi banyakan tidurnya, biar nyampe Paris besok fresh. Dan syukurlah selama penerbangan ini tidak ada turbulance yang berarti, jadi bisa enak tidurnya. Alhamdulillah..

KL-Paris

Next saya bakal cerita pengalaman saya menjadi saksi pencurian di Paris..tungguin ya...
Semoga bermanfaat..!!!

Jumat, 01 Mei 2015

Packing & Persiapan Sebelum Berangkat Euro Trip

Setelah visa, tiket dan semua akomodasi beres, saatnya packing dan mengurus hal-hal kecil namun penting lainnya. Apa saja yang saya persiapkan sebelum berangkat tgl 27 Maret 2015 lalu, berikut rinciannya :

1. Tentukan besar koper dan jumlah koper yang dibawa.
Karena kita traveling secara mandiri tentu pertimbangankan besar dan jumlah koper yang dibawa. Jangan mentang-mentang Malaysia Airlines free bagasi 30kg per-org trus kalap mau bawa barang banyak he..he.. Stasiun di Eropa banyak yang tidak memiliki fasilitas eskalator ataupun lift, jadi jangan sampai merepotkan diri sendiri. Bawalah koper atau ransel sesuai kemampuan kita, agar gampang ketika pindah kota ataupun negara di Eropa nanti.
Saya memutuskan membawa 1 koper ukuran sedang (size 24"), 1 koper ukuran kabin (size 20"), 1 ransel ukuran sedang, 1 folding bag dan 1 tas slempang eiger ukuran kecil. Saya sudah memikirkan cara membawa semua barang-barang ini. Koper size 24" dan ransel akan dibawa oleh suami saya, sedangkan saya membawa sisanya, khusus untuk folding bag nanti akan saya taruh diatas koper size 20" yang saya bawa jadi lebih praktis.
Foto saya dan barang bawaan selama di Eropa, btw ranselnya sama suami ya.

2. Tentukan apa saja yang akan dibawa.
Karena saya berangkat saat musim semi yang masih dingin suhunya, selain pakaian, wajib ada jaket tebal, sarung tangan dan kupluk. Pakaian dalam bisa beli yang sekali pakai, langsung buang jadi meringankan koper. Baju juga jangan bawa yang baru, bawa aja baju-baju lama kita jadi kalo misalnya pas disana mau dibuang ya ga sedih-sedih amat. Saya sendiri selama di Eropa sering buang baju lama yang uda dipakai, memang uda niatnya gitu dari awal, jadi bisa ada space buat oleh-oleh nanti he..he..

Awalnya saya ragu mau bawa rice cooker apa ga, kebetulan saya punya rice cooker khusus traveling yang dikasi gratis oleh informa dulu. Setelah baca blog traveler lain yang membawa rice cooker dan rendang ke Paris, saya jadinya memutuskan untuk bawa rice cooker juga. Selain menghemat biaya makan selama disana, suami juga lebih senang makan nasi daripada roti dll. Dan sungguh keputusan saya membawa rice cooker ini benar-benar tepat, disaat udara dingin dibawah 10 derajat Celcius, perut Indonesia ini memang butuh nasi hangat buat menahan dinginnya udara he..he. 

Mama tercinta juga dengan senang hati mengirimkan paket rendang & keripik balado dari Padang buat modal lauk disana, Alhamdulillah bisa lebih berhemat lagi.. Selain itu saya juga bawa abon, indomie, bumbu nasi goreng, saus sambal, dan kornet dalam bentuk sachetan. Dan Alhamdulillah semua makanan ini lolos bagian costum ketika masuk imigrasi Singapura maupun Paris, jadi makan nasi ma rendang Padang deh pas di Paris..Mantap.. Saya juga bawa beras, tapi kalo kehabisan ga usah khawatir supermarket di Eropa rata-rata menjual beras kok, harganya juga ga nyampe 1 Euro untuk 500gr, jadi sapa bilang di Eropa ga bisa makan nasi he..he..

Foto rice cooker yang saya bawa dan beras yang saya beli di supermarket di Roma
Saya juga menyiapkan dompet traveling, yaitu dompet khusus anti copet untuk menyimpan uang dan kartu yang bisa digantungkan dileher dan dimasukan didalam baju. Sempat nyari-nyari di batam, ada dijual ditoko-toko koper tapi harganya kemahalan menurut saya. Lalu saya cek di Instagram nemu online shop yang jual dompet ini, harganya 45ribu, beli di online shop aja deh karena lebih murah. Tapi kemaren saat saya ke Singapura, saya mampir ke Daisho di Ion Orchard nemu dompet ini juga dengan harga jauh lebih murah yaitu $2 Sing saja, jadi beli lagi deh buat persiapan he..he..

Yang item saya beli di OS, sedangkan yang warna krem saya beli di Daisho Ion Orchard.
3. Foto atau Scan semua dokumen penting yang berkaitan dengan perjalanan.
Karena banyaknya kasus pencopetan terhadap turis di Eropa jadi hal ini penting dilakukan. Foto atau scan semua data paspor, visa, KK, KTP, asuransi perjalanan, tiket dan bookingan hotel. Kumpulkan dan kirim ke email pribadi dan masukan juga di HP jadi jika misalnya kita kehilangan, semua copy nya bisa kita dapatkan di email atau HP.

4. Catat nomor penting dalam HP atau buku note yang dibawa saat traveling.
Nomor penting ini antara lain :
- nomor semua kartu bank (debit & kredit), no tlp bank jika kartu hilang bisa langsung diblokir.
- nomor telpon emergency dan no tlp kepolisian setempat (kota/negara yang kita kunjungi)
  Untuk seluruh Eropa Emergency numbernya 112.
- nomor telpon dan alamat kedutaan Indonesia setempat.
- nomor telpon pihak asuransi perjalanan di Indonesia.

5. Kalau punya banyak waktu, kirim email konfirmasi pribadi ke setiap hotel tempat kita menginap.
Agar yakin pihak hotel sudah tau bahwa kita akan menginap di hotel mereka. Sebutkan tanggal dan jam kedatangan kita di email tersebut. Hal ini untuk menghindari kecurangan yang bisa saja dilakukan oleh pihak hotel kepada kita. Contohnya saat kita datang, mereka bilang kamar mereka penuh dan kita dioper ke hotel lain yang bukan kita pesan. Ini sering menimpa traveler, termasuk Trinity si naked traveler sekali pun pernah mengalami hal ini.

6. Print dan pelajari semua peta kota yang kita tuju, termasuk peta menuju hotel dari stasiun atau bandara.
Ini berguna banget agar sampai disana ga kesasar dan tidak terlihat seperti orang kebingungan. Biar ga jadi target orang-orang yang berniat buruk atau penipu. Usahakan juga mengingat atau punya foto gedung hotel yang kita inapi, jadi mudah mencarinya saat baru datang.

7. Lalukan webcheck-in penerbangan sebelum berangkat.
Biasanya kita sudah bisa melakukan webcheck-in 48 jam sebelum keberangkatan. Ini penting buat yang suka pilih tempat duduk diatas pesawat seperti saya he..he.. Karena dengan fasilitas webcheck-in ini kita bisa memilih tempat duduk yang kita inginkan. Untuk acuan layout posisi kursi diatas pesawat bisa buka situs seatguru.com. Caranya cukup masukkan airlines dan no penerbangan kita di situs ini, nanti akan muncul tampilan layout kursi dalam kabin pesawat.

8. Olahraga yang teratur untuk mempersiapkan kondisi fisik selama perjalanan.
Karena traveling keliling Eropa secara mandiri itu ga gampang, butuh fisik dan mental yang prima. Saya beberapa bulan sebelum berangkat memang sudah rajin Zumba seminggu 4 kali. Ini sangat berpengaruh pada ketahanan tubuh dan fisik selama di perjalanan. Karena selama traveling itu kita akan banyak berjalan kaki, menggeret koper dan digempur oleh suhu dingin Eropa.

9. Jangan lupa bawa obat-obatan dan vitamin.
Saya selalu bawa tolak angin, Ester C, antimo, panadol, obat diare, safecare dan antibiotik selama diperjalanan. Untuk Euro Trip saya tambahkan balsem dan obat pereda sakit jika keseleo/terkilir.

11. Tukar Rupiah ke Euro di Money Changer.
Saya lebih suka nukar uang di Indonesia, biar ga ribet pas nyampe di negara yang dituju. Kalau di Jakarta saya sempat tukar di money changer yang ada di Grand Indonesia, soalnya beberapa kali tukar di sana ratenya lumayan bagus. Di Batam saya tukar di money changer yang ada di Nagoya Hill, lumayan juga ratenya yang terakhir tukar di salah satu toko mas di Nagoya Hill dapat rate yang oke banget. Intinya kalau mau tukar uang, mesti rajin membandingkan antara satu money changer dengan yang lainnya, agar dapat rate yang paling oke.

10. Barang-barang lain yang juga penting untuk dibawa :
- Kamera dan segala perlengkapannya (tongsis, lensa tambahan dll).
- Gembok buat koper n ransel, juga sediain gembok buat di jembatan pont de arts Paris kalo mau he..he..
- Payung lipat, sepele tapi penting, dari pada beli disana sayang euronya say..
- Sepatu tertutup yang nyaman dan kaus kaki.
- Tempat air dan kotak makan. Kalo bawa rice cooker tentu butuh kotak makan he..he..
- Tisu basah, tisu kering, pantyliner dan pembalut (kalau pas jadwalnya haid).
- Bantal leher biar nyaman tidur selama perjalanan.

Kira-kira itu persiapan saya menjelang keberangkatan, mungkin masih ada yang kurang, harap maklum ingatan saya terbatas. Kalau ada yang mau tambahin dikomentar silakan ya, buat sharing ke teman-teman lain yang bakal Euro Trip juga.

Semoga Bermanfaat..!!! Next saya akan cerita tentang perjalanan Euro Trip saya.

Pengalaman Hunting Aurora Yang Sangat Berkesan di Tromso Untuk Kedua Kalinya.

  Hai Miss Aurora. Kalian uda baca pengalaman hunting aurora saya pertama kalinya di Tromso belum? Kalau belum silakan baca disini ya. Soal...