Kamis, 24 September 2015

Day 3 - 08 Sep 2015 Nami Island & Petite France (Korea Trip 2015)

Nami Island.
Ini hari kedua kami di Seoul, sebelumnya cek prakiraan cuaca hari ini diprakirakan bakal cerah. Karena itu kita berdua mutusin buat ke Nami Island dan Petite France. Kita uda siap-siap sejak jam 7 pagi dari guesthouse karena perjalanan ke Nami Island cukup jauh dari Seoul. Butuh waktu kurang lebih 2 jam menuju Nami Island dari Hongik Station. Oya ternyata pas nyiapin sarapan di dapur, saya ketemu penghuni dorm yang memakai jilbab. Saya langsung nanya asalnya dari mana. Ternyata mereka mahasiswa UNPAD yang baru mengikuti seminar yang sama dengan mahasiswa UNAIR yang saya temui di namsan kemaren. Mereka ada 4 orang yang nginap di Chingu Guesthouse, wah senang ketemu orang Indonesia lagi yang ternyata nginap disebelah kamar kita.

Jam 08.30 pagi kita uda jalan menuju stasiun Hongik. Berikut rute yang mesti kami jalani menuju Nami Island.
  1. Dari stasiun Hongik ambil subway line Gyeongui-Jungang menuju stasiun Sangbong. Sepanjang perjalanan ini kami malah ketiduran karena perjalanan yang cukup jauh dan lama, melewati banyak stasiun he..he..
  2. Dari stasiun Sangbong nanti pindah ke jalur subway Gyeongchun turun di stasiun Gapyeong. Bisa dilihat detail jalur subway dari aplikasi subway diHP saya berikut ini.
    Detail subway dari Hongik ke Gapyeong.
    Ada yang menarik saat kita tiba di Sangbong dan naik kereta menuju Gapyeong. Yaitu rame sekali kakek nenek yang bergaya akan hiking (naik gunung) naik kereta yang sama dengan kami. Sepertinya daerah Gapyeong ini memang terkenal dengan wisata hikingnya, karena daerah ini memang dikelilingi gunung dan bukit. Satu lagi yang menarik adalah, saat kami diatas kereta menuju Gapyeong, ada ibu-ibu yang berjualan diatas gerbong kami. Wah seru juga melihat aksi ibu-ibu ini berjualan, dengan suara lantang dia menawarkan dan memperlihatkan dagangannya ke kita yang duduk di gerbong itu. Ada baju, ada tikar untuk piknik, ada syal, ada tas dll semuanya dikemas dengan sedemikian rupa hingga bisa dilipat kecil dan tidak memakn tempat. Wah menarik sekali, dan jangan salah banyak lho yang beli, terutama nenek2 & kakek2 yang segerbong dengan kami he..he.. Oya yang jualan ga cuma 1 orang, ga lama setelah ibu penjual pertama pergi, ada lagi ibu penjual yang lain masuk ke gerbong kami. Walau barang yang dijual hampir sama, tapi ibu penjual yang kedua ini menawarkan barang yang berbeda dari ibu penjual pertama, yaitu tempat HP/botol minum yang bisa diikat ditubuh. Jadi kalau olahraga lari atau jalan ga perlu cape megang HP/botol minum dan lagi-lagi ada yang beli. Senang deh lihatnya, menarik dan barang-barang yang dijual serbaguna juga bagus.
  3. Dari stasiun Gapyeong kita naik Shuttle bus for Gapyeong Tourist Resort (Tour Bus) yang bisa ditunggu didepan stasiun, dengan durasi keberangkatan setiap 30 menit. Saat kami datang shuttle bus ini memang sedang menunggu penumpang, jadinya kita langsung naik. Tiket yang harus dibayar untuk naik shuttle bus ini seharga 6000 won perorang. Cukup membayar 1x tiket bus, kita bisa naik turun bus ini seharian untuk menikmati tempat-tempat wisata yang ada di Gayeong. Syaratnya tiket bus yang uda kita beli diawal harus disimpan dan jangan sampai hilang, karena setiap naik bus ini lagi nantinya kita mesti memperlihatkan tiket yang uda kita beli sebelumnya. Rute shuttle bus ini, selain menuju tempat wisata Nami Island, juga menuju Petite France dan Morning Calm Arboretum. Jadi untuk ke Petite France kami pun akan naik shuttle bus ini lagi. Bus ini ada berpemandu ada juga yang tidak. Jadwal dan rute shuttel bus for Gapyeong Tourist Resort ini bisa diminta ke pemandu atau supir busnya saat kita naik. Berikut Jadwal serta rute shuttle bus Gapyeong ini.
    Jadwal shuttle bus Gapyeong.
    Ahjuma yang jadi pemandu kami di shuttle bus Gapyeong.

    Rute shuttle bus Gapyeong.
  4. Tiba di pemberhentian Shuttle Bus Nami Island, kita langsung menuju Gapyeong Wharf. Jadi pemberhentian bus Nami Island ini tidak benar-benar mengantarkan kita ke Nami Island. Tapi baru sampai Gapyeong Wharf, untuk ke Nami Islandnya sendiri kita mesti naik feri lagi menyebrang danau. Ada dua cara untuk ke Nami Island dari Gapyeong Wharf ini pertama dengan kapal feri, yang kedua kita bisa mencoba pakai Zip Ware alias flying fox. Kita berdua ga nyobain pake Zip Ware selain sayanya takut, harganya juga mahal he..he.. Untuk naik feri sendiri tiketnya 8000 won perorang untuk turis, itu sudah termasuk tiket masuk Nami Island / Naminara Republic. Jangan lupa saat beli tiket masuk, minta peta Nami Island berbahasa Inggris ke petugasnya. Atau bisa dicari dimeja-meja dekat pembelian tiket. Peta ini berfungsi sekali karena Nami Island cukup luas, jadi lebih baik kita ada petunjuk untuk menjelajahinya.
    Yang dibelakang Bang Tomi adalah menara zip ware.

    Imigration Naminara Republic di Gapyeong Wharf.

    Happy face di gerbang sebelum naik feri.

    Feri yang kita naiki ke Nami Island.

    Feri lain yang berpapasan dengan feri kita.
    Peta Nami Island.
Kami sampai di Nami Island jam 11.30 siang, wah ternyata memang memakan waktu yang lumayan lama untuk mencapai pulau nan indah & romantis ini. Baru masuk aja kita uda jatuh cinta dengan suasana dan keasrian pulau ini. Walau kita pergi di hari biasa atau weekdays, tapi tetap rame turis yang berkunjung ke Nami Island, baik turis lokal maupun mancanegara. Saya dan Bang Tomi dari awal memang merencanakan akan piknik romantis di Nami Island ini, jadinya kita uda menyiapkan bekal dari guesthouse buat piknik dan makan siang di sini he..he.. Setelah foto-foto dibeberapa spot, kita mulai hunting tempat buat piknik. Akhirnya nemu tempat piknik teduh dan beratap ini seperti gazebo. Kita putusin buat makan siang n leyeh-leyeh disini karena ga jauh juga letaknya dari toilet, jadi urusan cuci mencuci gampang he..he.. Kita mulai keluarin semua bekal yang kita bawa, ada nasi, rendang, sambal uleg, saus sambal, coklat dll. Oya gazebo seperti ini banyak tersebar di Nami Island, jadi memang banyak juga turis yang sengaja piknik ke sini. Buktinya ga jauh dari gazebo kami ada rombongan nenek2 dan kakek2 yang juga piknik he..he.. Suara heboh mereka terdengar sayup-sayup ke tempat kami. Beres makan, kita leyeh-leyeh dulu di gazebo sambil bercengkrama.

Baru nyampe langsung foto-foto.

Baekpungmilwon Maple Garden.

Pohon Maple disini sudah mulai berubah warna.

Dipertengahan musim gugur pasti keren banget ini.

Yuk makan abangku.

Gazebo buat yang mau piknik di Nami Island.

Abis makan, ada yang ngantuk he..he..
Perut kenyang dan energi uda terkumpul lagi, kami lanjutin buat explore Nami Island. Kita menuju Ginkgo Tree Lane dan Metasequoia Lane tempat syuting serial Winter Sonata yang terkenal itu. Walau saya bukan penggemar serial drama Korea ataupun K-Pop, tapi saya sangat merekomendasikan Nami Island ini untuk dikunjungi, karena keindahannya. Puas menikmati Nami Island dan berfoto-foto ria, sekitar jam 2 siang kami memutuskan untuk cabut dari Nami, dan segera mengejar shuttle bus jam 14.25 menuju Petite France. Saat balik ke Nami Wharf buat naik feri, ga sengaja kami ketemu lagi dengan pasangan mahasiswa UNAIR yang kami temui di Namsan kemaren huaha..ha.. Kita saling bertegur sapa, mereka baru sampai, sedangkan kami sudah mau berangkat, jadinya say bye..bye..lagi he..he.. Oya ada yang menarik lagi di Nami Island, yaitu toiletnya yang super bersih dan tersedia buku didalam toiletnya. Jadi buat yang mau pup, bisa sambil baca buku. Buku-bukunya juga menarik, terutama buat anak-anak karena banyak buku dongeng bergambar. Saya sebagai pecinta buku, sangat senang melihat toilet seperti ini.

Snow Cafe & Winter Sonata Picture.

I'm waiting for U..

Ginkgo Tree Lane.

Bersyukur aku bersamamu di pulau cantik dan romatis ini.

Turis di Metasequoia Lane.

Saranghayeo.

Sejak dari Batam si Abang uda niat banget mau foto di Icon Nami Island satu ini he..he..mimik cucu..

Judulnya orang ketiga.

My love, My travelmate.
Saat tiba di Nami Wharf untung feri buat ke Gapyeong Wharf sudah ada dan lagi nurunin penumpang. Semua penumpang sudah turun, baru kita naik dan menuju Gapyeong Wharf. Perjalanan menggunakan feri ini kurang lebih 15 menit. Sesampainya di Gapyeong Wharf saya dan suami langsung buru-buru menuju halte shuttle bus yang kami naiki tadi. Wah dari jauh uda kelihatan busnya lagi parkir di halte bus, kami langsung lari dong takut ketinggalan bus, soalnya bus berikutnya baru ada 1 jam kemudian, males juga kalau nunggu lama. Untunglah busnya ternyata masih nurunin penumpang dulu, jadinya pas kita sampai baru naikin penumpang. Itu gunanya sebelum naik shuttle bus pertama kali kita minta jadwal dan rutenya jadi bisa tau jam berangkat bus dari setiap halte. Pas naik yang kedua ini, cukup menunjukkan tiket tadi, jadi ga perlu bayar lagi.

Perjalanan dari Nami Island ke Petite France lumayan jauh, kurang lebih 35 menit perjalanan. Perjalanan yang bakal kita lewati berkelok-kelok khas jalanan pegunungan. Kebanyakan sih penumpang lain pada ketiduran, saya malah asyik menikmati pemandangan diluar jendela. Pemandangannya bagus karena kita bisa melihat pegunungan dan danau. Tapi untuk yang suka pusing dijalanan berkelok ya siap-siap aja. Tapi tenang di bus ini juga tersedia kantong plastik yang digantung ga jauh dari tempat duduk kita. Jadi buat yang suka muntah diperjalanan seperti ini, bisa nyaman karena uda ada kantong buat muntahnya he..he..

Sampai di Petite France, kita berdua langsung menuju loket penjualan tiketnya. Syukurlah sebelum berangkat ke Korea saya rajin browsing dulu. Terutama cek websitenya Korea Tourism Organization (KTO). Jadinya saya tau kalau pas saya ke Korea ini bertepatan dengan Korea Grand Sale 2015, jadinya banyak diskon belanja termasuk diskon tiket masuk ke tempat wisata. Diskon ini tidak serta merta diberikan kepada kita, tapi kita mesti download kupon diskonnya dulu. Salah satunya untuk masuk ke Petite France, saya dapat diskon 25% dari kupon diskon yang sudah saya download & print sebelumnya. Lumayan lho untuk tiket Petite France yang tadinya 8000 won perorang, jadi 6000 won aja perorang karena dapat diskon ini. Berdua kita uda hemat 4000 won, lumayan lah buat jajan eskrim he..he..

Gerbang  Petite France.

Peta Petite France.

Kupon diskon tiket masuk Petite France dari website Korea Grand Sale.
Urusan tiket masuk beres, kita langsung menjelajahi kawasan wisata Petite France ini, bermodal dengan peta yang diberikan petugas penjual tiket. Tempat ini cantik karena memang dibangun dan ditata sedemikian rupa sehingga seperti perkampungan di Perancis. Cocoklah buat yang suak foto-foto kayak saya he..he.. Tapi karena kami datangnya jam 3 siang, pas panas-panas nya. Beda banget dengan Nami Island, disini jarang banget ada pohon, jadinya terasa panas sekali. Untung ada yang jualan eskrim jadinya saya jajan eskrim buat meredakan panas terik ini he..he..

Petite me at Petite France.

Pose..pose..Snap..snap..

Warna-warni Petite France.

I'm with U.

Berasa ga lagi di Korea kalau bangunannya seperti ini.

Jadi pengen punya rumah warna-warni seperti ini.

Hey Husband..

Panas gini enaknya makan es krim.

Yummy..
Uda foto-foto dan masuk ke bangunan-bangunan yang ada di petite france, sorenya kami putuskan buat balik ke Seoul. Kita naik lagi shuttle bus yang jam 16.20 dari Petite France. Kali ini kami akan ke stasiun Cheongpyeong buat naik kereta balik ke Seoul. Alasannya kami tidak kembali ke stasiun Gapyeong karena jarak ke stasiun Gapyeong lebih jauh dari stasiun Cheongpyeong jika dari Petite France. Tiba di stasiun Cheongpyeong jam 16.45 kita lalu naik kereta ke Sangbong. Di dalam kereta kita ngobrol, apakah mau balik ke guesthouse atau mau ke Dongdaemun buat cari souvenir. Karena masih sore kita mutusin buat hunting souvenir ke Dongdaemun.

Caranya menuju Dongdaemun, dari stasiun Sanbong kita naik subway line Gyeongui-Jungang menuju stasiun Wangsimni. Lalu di stasiun Wangsimni, kita pindah jalur subway line 2 menuju stasiun Dongdaemun History & Culture Park. Karena sore hari, pas jam pulang kantor jadi stasiun Wangsimni, penuh sesak. Kita sempat bingung pas mau pindah jalur subway, untung ada ibu-ibu yang berbaik hati mengantarkan kami berdua ke jalur subway line 2. Lagi-lagi kita merasakan kebaikan orang Korea, walau ga bisa berbahasa Inggris ibu ini mau mengantarkan kita lho, sedangkan dia ga naik kereta yang sama dengan kita.

Sampai di Dongdaemun kita langsung menuju Doota Shopping Center. Sesuai dengan rekomendasi dari buku Claudia Kaunang untuk mencari souvenir yang murah dan banyak macamnya bisa ke toko Arirang yang ada di lantai 5 Doota Shopping Center. Tapi sekarang tokonya uda pindah ke lantai 6 saudara-saudara, jadi kami sempat bingung pas nyari dilantai 5 he..he.. Kenapa belanjanya disini, karena selain harganya uda jelas tertera, pegawainya juga rata-rata orang Indonesia jadi enak belanjanya pake bahasa Indonesia, trus kalau beli banyak dapat diskon tambahan n bonus souvenir. Sebenarnya di Namdaemun juga banyak toko souvenir tapi setelah saya membandingkan harga memang lebih murah belanja di toko Arirang ini. Beres belanja souvenir dan oleh-oleh barulah kita balik ke guesthouse. Berikutnya saya akan bercerita tentang pengalaman belanja di Myeongdong dan Namdaemun pada hari ketiga kami di Seoul. Terus ikuti ya..!!!

Selasa, 22 September 2015

Day 2 - 07 Sep 2015 Hari Pertama di Seoul Korea Selatan (Korea Trip 2015)

Setelah terbang selama 6 jam, akhirnya kami mendarat di Incheon International Airport Seoul. Suhu yang dikabarkan pilot sebelum mendarat adalah 17 derajat Celcius. Ya awal September merupakan peralihan musim panas ke musim gugur, jadinya suhu di Seoul masih hangat. Bandara Incheon ini besar sekali, sesudah keluar dari belalai pesawat kita mesti jalan lumayan jauh untuk mencapai bagian imigrasi. Dari bagian imigrasi ini ternyata kita juga masih harus naik shuttletrain untuk menuju bagian pengambilan bagasi.

Menunggu shuttletrain Incheon Airport dengan segala gaya dan rupa.
Koper yang ditaruh dibagasi uda ditangan, kami lanjut menuju statiun subway untuk ke pusat kota Seoul. Untuk menuju pusat kota Seoul ada 2 kereta yang beroperasi yaitu kereta ekspres dan kereta regional yang berhenti setiap stasiun. Yang membedakan kereta ini adalah waktu tempuh dan harga tiketnya. Tentu kami milihnya kereta regional saja karena lebih murah dan ga buru-buru juga he..he.. Sebagai perbandingan harga tiket kereta ekspres 2x lebih mahal dari kereta regional, tapi sampainya juga lebih cepat. Awalnya sempat bingung pas keluar dari tempat pengambilan bagasi, akhirnya nyari pusat informasi bandara dan bertanya letak stasiun subwaynya dimana. Stasiun subway ada dilantai bawah, jadi setelah keluar dari pengambilan bagasi kita disuruh turun menggunakan lift oleh pegawai informasi bandara.

Setelah itu kita beli kartu T-Money yang akan digunakan untuk transportasi selama di Seoul. Belinya di 7eleven dekat stasiun seharga 3000 won per-kartu. Jangan lupa isi ulang kartu T-money nya karena kartu yang kita beli masih dalam kondisi kosong. Waktu mau isi ulang ternyata di 7elevennya ga melayani, jadinya disuruh ke toko souvenir didepannya untuk isi ulang. Kita isi ulang masing-masing 20.000 won tiap kartu. Isi ulang juga bisa dilakukan dimesin-mesin tiket yang ada di stasiun. Oya sebelum masuk stasiun jangan lupa ambil peta Seoul dan peta subway Seoul yang berbahasa Inggris. Kalau ga ketemu, bisa minta dengan pegawai subway yang duduk didalam counter disamping pintu masuk stasiun.

Peta yang diatas ampe robek karena dipakai terus selama kita di Seoul.
T-money
Sebelum berangkat saya juga uda download & instal aplikasi subway Seoul diHP, jadi uda ada gambaran peta subway Seoul. Bagusnya aplikasi ini juga memberikan estimasi waktu perjalanan dan harga tiketnya. Contohnya untuk perjalanan dari Incheon Airport ke Hongik Stasiun perjalanan kurang lebih 50menit dan harga tiketnya 4050 won. Oke, beres urusan T-Money dan peta, kami capcus naik kereta menuju Hongik Univ. Stasiun tempat guesthouse kami berada. Sepanjang perjalanan kami terpukau dengan tata kota Seoul yang serba rapi dan modern. Apalagi saat melewati jembatan penghubung antar pulaunya, ga cuma satu, tapi ada banyak jembatan yang dibangun sebagai sarana penghubung.

Aplikasi subway Seoul di HP saya.

Ini contoh fasilitas informasi yang ada diaplikasi subway Seoul.
Sampai di stasiun Hongik, lagi-lagi kita ketemu banyak tumpukan peta, kami cek lagi ternyata ada peta kawasan wisata Hongik. Hati-hati kalau ambil peta cek dulu bahasanya karena di Seoul setiap peta dibuat 4 macam sesuai bahasa yaitu bahasa Korea, Jepang, China dan Inggris. Setelah mengambil peta tambahan, kami langsung keluar dari stasiun Hongik. Perhatikan juga arah exit yang kita tuju, karena hampir di setiap stasiun di Seoul memiliki lebih dari satu exit. Untuk stasiun Hongik sendiri ada 9 exit. Salah mengambil exit bisa-bisa bikin kita jauh dari tempat yang kita tuju he..he..

Karena saya uda pesan guesthouse ini sebelumnya di booking.com, jadi sebelum sampai di Seoul pihak guesthouse sudah mengirimkan peta menuju guesthousenya dari stasiun Hongik ke email saya. Jadi sesampainya di stasiun Hongik kami langsung menuju exit 1, sesuai info dari Chingu Guesthouse tempat kami menginap. Tapi keluar dari exit 1 kami berdua mengalami disorientasi dan salah mengambil jalan dikarenakan salah membaca peta. Yang mestinya belok kanan dari stasiun, kita malah belok kiri he..he.. Untung kita cepat sadar & bertanya ke oppa yang lewat. Nah baiknya orang Korea setiap kita bertanya mereka pasti nolongin walaupun kadang bahasa menjadi kendala, tapi jangan takut mereka tetap menolong walau dengan bahasa tubuh. Si Oppa ini langsung ngeluarin HP nya buat cari guesthouse yang kita maksud. Lalu menjelaskan arahnya, ternyata peta yang dikasi pihak guesthouse itu mesti diputar dulu buat bacanya, baru ga salah arah huaha..ha..makasih ya Oppa.

Kenapa kami memilih menginap di daerah Hongik, karena Hongik stasiun berada di line yang sama dengan subway ke bandara Incheon, jadinya urusan dari dan ke bandara gampang tanpa perlu ganti line sambil geret2 koper. Yang kedua karena stasiun Hongik sendiri merupakan pertemuan dari beberapa line (interchange) jadi akses ke tempat-tempat wisata lebih mudah karena banyak pilihan line nya. Yang ketiga karena Hongik merupakan kawasan kampus jadinya harga penginapan, makanan ataupun produk-produk yang dijual disekitaran Hongik termasuk murah. Salah satu nya produk kosmetik Etude House, pada hari yang sama saya lihat Etude House di daerah Myeongdong tidak ada diskon sama sekali, tapi pas saya lihat di Hongik all produk Etude Housenya diskon 20% sampai 50%. Berasa banget kan bedanya harga dikawsan kampus dengan harga dikawasan turis. Yang keempat karena suasana kawasan Hongik yang happening & keren abis apalagi kalau malam dan weekend rame banget, lalu banyak street performance yang nampilin bakat-bakat mereka. Yang kelima dari segi keamanan, walau rame oleh anak muda, tapi daerah ini termasuk aman dari copet dan preman jadi ga ada rasa was-was jalan-jalan di Hongik sampai tengah malam. Saya tidak merekomendasikan daerah Seoul Station karena disana banyak copet, preman dan gelandangan jadi tidak aman, nanti saya akan cerita pengalaman kami yang hampir kecopetan di daerah itu.

Kawasan Hongik Univ.
Nyampe di Chingu Guesthouse uda jam 11 siang, Alhamdulillah kita uda boleh check in, jadi bisa langsung mandi dan istirahat. Normalnya sih check in baru bisa setelah jam 3 sore, tapi karena lagi sepi dan kamar kita memang kosong dan uda disiapkan jadinya dibolehin check in awal. Chingu Guesthouse ini dikelola oleh warga asing (bule) tapi yang punya katanya sih orang Korea (kita ga pernah ketemu sama pemiliknya). Yang menyenangkan dari guesthouse ini selain bersih, adalah salah satu pegawainya orang Indonesia, namanya mbak Wita asli Bali. Jadi kalo ada apa-apa ngomongnya enak sama mbak Wita aja he..he.. Seperti biasa nginap di guesthouse ada fasilitas dapurnya jadi bisa masak trus mereka juga sediain beras dan bahan makanan lain buat tamunya. Walau nginap di guesthouse kita tetap pilih yang private room buat kita berdua.

Karena masih capek abis perjalanan panjang, setelah mandi dan makan kita berdua istirahat (tidur) dulu di kamar. Bangun-bangun uda jam 2 siang aja. Karena uda seger abis tidur, kami dengan semangat 45 langsung memulai petualangan kami di Seoul. Hari pertama di Seoul ternyata cukup banyak tempat yang kami kunjungi, yaitu :

1. Ehwa Women University

Letaknya tidak jauh dari Hongik Univ. stasiun, hanya berjarak 2 stasiun subway. Cara menuju ke sana ambil subway line 2 turun di Ehwa Women University exit 2. Yang terkenal dari kawasan ini adalah bangunan kampusnya yang unik dan tertata rapi seperti di Eropa. Ehwa sendiri merupakan universitas khusus wanita, dan masuk dalam jajaran universitas bergengsi di Seoul. Bukan hanya kampusnya yang keren, tapi kawasan shopping disekitar kampus ini juga terkenal karena murah. Tapi saya dan suami ga punya waktu banyak buat explore kawasan ini. Kami cuma sempat foto-foto dari luarnya saja, soalnya cuaca saat itu panas terik jadinya kita juga males buat explore dan maunya buru-buru ke Namsangol Hanok Village.

Taman Ehwa Woman University.

Pintu gerbang kampus Ehwa.

2. Namsangol Hanok Village

Cara menuju ke sana subway line 3 atau 4 turun di stasiun Chungmuro exit 3 atau 4, letaknya tidak jauh dari pintu keluar subway. Buat teman-teman yang mau melihat suasana dan bentuk rumah perkampungan tradisional Korea yang disebut Hanok bisa datang kesini. Masuk ke sini gratis dan buka setiap hari dari jam 9AM-9PM. Di sini kita bisa melihat bagaimana kehidupan tradisional orang Korea. Waktu kami datang sedang ada festival atraksi taekondow jadi seru juga melihatnya. Berikut foto-foto kita di Namsangol Hanok Village.
Gerbang Namsangol Hanok Village.

Festival Taekondow

Suasana rumah tradisonal Hanok.

Ga ada lagi penyewaan Hanbok gratis di sini, kalau mau bayar sekarang hiks..hiks..

Bersama anak-anak taekondow peserta festival sehabis mereka perform.

Taman Namsangol Hanok Village.

3. Korea House

Ga jauh dari Namsangol Hanok Village ada satu tempat wisata yang bisa dikunjungi namanya Korea House. Di korea house ini kita bisa melihat performance tradisional Korea, seperti tarian dan kisah-kisah legenda Korea. Namun harga tiket untuk menonton pertunjukan ini cukup mahal dan pertunjunkan dilaksanakan malam hari. Jadinya kita cuma foto-foto didepannya saja.

Tanda Korea House

Jalan masuk menuju Korea House.

Pegawai Korea House yang bertugas untuk menjual tiket acara.

Korea House si tempat pertunjukan tradisional Korea.

4. N Seoul Tower

Untuk mencapai N Seoul Tower kita tinggal naik bus no.02 atau no.05 dari halte bus yang berada di depan Namsangol Hanok Village. Saya lebih menyarankan untuk naik bus no.02 karena lebih cepat sampai, dibanding bus no.05 yang muter-muter dulu. Harga tiket busnya sama 1100 won dan bisa dibayar dengan T-money. Kedua Bus ini nanti mengantarkan kita persis didekat N Seoul Tower, jadi ga perlu lagi naik cable car. Tapi kalau mau mencoba naik cable car, bisa tetap menggunakan bus no.02 tapi nanti turunnya di terminal cable car N Seoul Tower. Saat nunggu bus ini, kami disapa oleh sepasang muda mudi asal Indonesia, mereka bertanya cara ke N Seoul Tower gimana. Ga lama setelah ngobrol, datang bus no.05 dan no.02. Kami pisah karena mereka naik bus no.05 sedangkan saya naik bus no.02. Ternyata saya dan suami yang nyampe duluan di N seoul Tower, mereka sampai sekitar 30 menit setelah kami.

Kami sempat cerita-cerita lagi pas di N Seoul Tower, sayang saya lupa nama mereka. Mereka berdua adalah mahasiswa UNAIR Surabaya yang mendapat undangan untuk menghadiri seminar salah satu kampus di Korea tapi bukan di Seoul. Katanya ada hampir 50 Mahasiswa seluruh Indonesia yang diundang, kalo dari UNAIR sendiri ada 6 orang kalo ga salah. Mereka dikasi beberapa hari di Seoul untuk jalan-jalan, wah menyenangkan sekali. Kita sempat bilang jadi pelajar/mahasiswa saat ini enak karena banyak banget peluang untuk ke luar negeri karena informasi yang sangat terbuka lebar dengan adanya internet.

Kami menghabiskan waktu dari sore sampai terbenamnya matahari di N Seoul Tower ini. Karena memang saat sunset adalah waktu yang tepat untuk ke N Seoul Tower. View sunsetnya memukau dengan latar kota Seoul yang apik. Belum lagi menikmati lock love warna warni yang tergantung mengelilingi N Seoul Tower ini. Tapi sepertinya lock love ini akan segera dibuka seperti halnya di Paris, karena waktu kesana kemaren saya membaca ada himbauan untuk membuka lock love itu.

Seoul dilihat dari atas bukit Namsan.

Sore yang panas.

Saking banyaknya gembok cinta bisa dibikin jadi pohon cemara he..he..

Cinta itu mestinya digembok di Baitullah, bukan di sini ya ga Bang..

View saat sunset di N Seoul Tower.

Spektakuler.

Hello there..
Seoul memang romantis.

5. Dongdaemun Design Plaza (DDP)

Puas menikmati keindahan sunset di N Seoul Tower, kami lanjut ke daerah Dongdaemun. Niat ke sini di hari pertama bukan untuk belanja melainkan untuk melihat Dongdaemun Design Plaza (DDP) yang megah dan artistik itu. Dan waktu yang tepat buat melihat DDP memang pas malam hari. Cara menuju Dongdaemun dari N Seoul Tower adalah dengan naik bus no.05, nanti bilang aja ke pak supirnya kalau kita mau diturunkan dekat daerah dongdaemun. Nanti pak supir bakal kasi tau kalo kita uda dekat dengan daerah dongdaemun dan diturunkan dihalte terdekat.

Pertama lihat bangunan ini kita langsung kagum, apalagi pas malam hari ada permainan lighting warna warni yang ditambahkan pada bangunan ini. Bikin suasana hidup dan romantis he..he.. Bangunan yang menyerupai UFO ini sebenarnya dibangun sebagai tempat exhibition/pameran. Tapi terdapat taman dan ruang outdoor yang tertata apik disekitar DDP sehingga menjadi salah satu tempat nongkrong favorit bagi warga Seoul maupun turis. Apalagi kawasan dongdaemun disekeliling DDP adalah kawasan Mall dan shopping center yang buka sampai subuh. Pokoknya kalau ke Seoul jangan lupa foto-foto di sini ya pasti keren he..he..

DDP

Bangunan ini telah menjadi landmark kota Seoul.

Bangunan yang artistik sekali.

Banyak muda mudi pacaran di sini he..he..

Kita juga berasa kayak masih pacaran he..he..

I'm Flying like a bird.
Setelah puas menikmati DDP kami akhirnya memutuskan buat balik ke guesthouse karena uda malam juga. Dari DDP untuk balik ke Hongik Station, tinggal ke stasiun Dongdaemun History & Culture Park subway line 2 lalu turun di stasiun Hongik yang juga dilewati oleh subway line 2. Gampang kan.. Setelah ini saya bakal cerita pengalaman kami hari kedua di Seoul dan mengunjungi Nami Island. Tetap ikuti terus blog ini ya, semoga bermanfaat..!!!

Pengalaman Hunting Aurora Yang Sangat Berkesan di Tromso Untuk Kedua Kalinya.

  Hai Miss Aurora. Kalian uda baca pengalaman hunting aurora saya pertama kalinya di Tromso belum? Kalau belum silakan baca disini ya. Soal...