Sabtu, 05 Maret 2016

Bali Day 1 - (Padang Bai - Legian - Kuta)

Sunset di pantai Kuta.
Setelah semalaman didalam kapal selama perjalanan mengarungi selat Bali-Lombok akhirnya kami sampai juga di Pelabuhan Padang Bai Bali. Perjalanan kurang lebih 5 jam, jadi kami sampai jam 5 pagi di pelabuhan Padang Bai. Pas turun dari kapal pelabuhan tampak masih gelap dan sepi. Oya sebelumnya kami sudah memesan mobil travel untuk mengantarkan kami dari pelabuhan Padang Bai ke hotel di daerah Legian. Nama travelnya Perama Tour & Travel, Perama ini menyediakan transportasi shuttle dari beberapa daerah di Bali, termasuk mobil shuttle dari pelabuhan Padang Bai ke Legian. Kalau mau lihat detail shuttle yang dilayani dan harganya bisa cek website Perama. Karena shuttle paling pagi ke Legian adanya jam 9 pagi. Jadinya kami mesti menunggu. Kami berdua memutuskan untuk menunggu di ruang tunggu penumpang, ternyata ada mushola yang cukup besar di pelabuhan ini, kita pun pindah ke mushola untuk sholat subuh dan numpang mandi he..he.. Memang jiwa backpacker, dalam kondisi sulit (kondisi kamar mandinya jauh dari kata bersih) pun masih bisa mandi di mushola dari pada gerah & lengket badannya.

Sekitar jam 7.30 kita pun memutuskan untuk menunggu di depan kantor Perama Tour saja, kebetulan kantornya persis disebelah mushola. Kantornya belum buka, tapi ada tempat duduk disana jadi kita nunggu aja. Pas nunggu inilah kita sempat dipaksa oleh supir omprengan untuk naik ke mobilnya. Saya santai aja jawab kalau kami uda pesan shuttle di Perama. Eh ni supir malah marah-marah dan ngancam saya, katanya ga boleh naik shuttle bus Perama kalau bukan tamu. Lah kita memang tamu kok, uda pesan jauh-jauh hari. Dia tetap nyolot sambil nunjuk-nunjuk. Saya dan suami cuek aja, tetap makan roti dan ga peduliin orang itu. Capek sendiri dia pergi deh he..he.. Kadang-kadang memang butuh mental baja buat traveling mandiri gini, ga jarang kita nemuin hal-hal kayak gini. Apalagi di pelabuhan gini, pasti ada aja preman. Tapi selama kita ga salah, kenapa mesti takut.

Tiba-tiba dari dalam rumah samping kantor Perama ini, keluar ibu-ibu yang bilang "tenang aja mbak, supir-supir omprengan disini memang suka gitu, ga usah ditanggapi." "Iya buk" jawab saya. Ga lama suami si ibu datang, namanya Pak Dian, ternyata suami ibu ini lah yang bertugas di kantor Perama Padang Bai. Sepertinya Pak Dian diberitahu oleh istrinya apa yang kami alami, jadinya Pak Dian duduk menemani kami sampai shuttle bus nya datang. Kami pun akhirnya berbincang-bincang akan banyak hal dengan Pak Dian ini. Beliau tipikal Bapak-Bapak yang suka diajak ngobrol, jadi ada aja yang kita bicarakan. Mulai dari suasana tahun baru di Bali, keadaan ekonomi dan pariwisata Bali saat ini, sampai tradisi dan kepercayaan orang-orang Bali, pokoknya menyenangkan. Ga terasa jam 8.45 shuttle bus nya datang. Saat itu ada 2 minibus yang datang. Kami pun membayar tiket ke Pak Dian sebesar 75ribu perorang. Tepat jam 9 kita berangkat, pagi itu hanya kami berdua penumpang di minibus ini.

Di dalam minibus supir mengatakan kita bakal ke daerah Ubud dulu untuk menjemput penumpang. Oke ga masalah, kita enjoy aja menikmati perjalanan shuttle bus ini. Bang Tomi malah tidur, karena kecapean & begadang semalaman. Nyampe Ubud, minibus lumayan penuh ada 5 penumpang yang masuk. Saat di Ubud inilah kita dikasi tau kalau jalan Legian tutup. Jadi minibusnya bakal muter dan ga lewat legian, turun didekat bom bali monument yang jauh dari hotel kita. Saya sempat bingung masa iya, jalannya ditutup. Setelah sempat nanya dan kasi lihat petunjuk arah ke hotel kita, keliatan supirnya rada ragu mau antar kita apa ga. Saya langsung aja bilang "masa iya jalannya tutup mas, paling jalanan macet karena ini tahun baru dan perama malas antar kita ke Legian karena macet. Tapi tolonglah mas." Saya pun kasi win-win solution pake peta biar mas nya ga kena macet di legian tapi tetap bisa antar kami ke hotel. Akhirnya setelah cukup alot mempertahankan pendapat saya, dengan mas supir, lalu dengan managernya juga (dia sampai telpon managernya karena saya kekeuh minta diantar ke hotel), saya mengatakan bayar 75ribu untuk diantar sampai hotel dan saya membawa koper jadi ga mungkin jalan jauh sambil geret-geret koper. Akhirnya pihak perama pun nyerah dan mau antar kita sampai hotel he..he.. Dan benar tebakan saya, jalan ke legian ga ditutup kok, cuma memang macet, makanya supir peramanya malas lewat sana.

Nyampe Legian langsung disambut arak-arakan kayak gini.

Alhamdulillah kami pun sampai di Si Doi Hotel Legian. Ternyata kamar kami belum ready, karena tamu yang sebelumnya belum check out pas kami datang. Akhirnya kita memutuskan untuk titip koper di lobi, lalu jalan-jalan disekitaran hotel. Kami nyari jasa laundri, soalnya lumayan banyak baju kotor dari perjalanan di Lombok kemaren. Untung ketemu, letaknya pun ga jauh dari hotel, trus didepan laundri kita melihat warung nasi Padang, wah pas banget kita memang uda laper dan pas jam makan siang. Beli nasi padang tapi dibungkus, soalnya mau makan di kamar hotel saja. Nyampe hotel, ga lama kamar kami pun ready dan kami langsung check in. Kesan pertama sampai di Si Doi Hotel Legian adalah suka dengan suasana cafe hotelnya dan keramahan petugas resepsionisnya. Petugas resepsionis yang melayani kami benar-benar ramah dan baik, lupa nanya namanya, tapi selama kami nginap disana dia satu-satunya petugas resepsionis perempuan disana. Oya dia juga yang menelponkan rental motor untuk kami. Jadi sebelum kami datang ke Bali saya sempat kirim email ke Si Doi Hotel, menanyakan apakah mereka bisa menyediakan rental motor? Dijawab ada, oleh pihak hotelnya dan harganya 70rb perhari. Untung saya uda email dan deal harganya 70rb perhari. Karena ternyata kata mbak resepsionisnya selama libur tahun baru ini rental motor tarifnya naik jadi 90-150rb perhari. Kami minta motornya diantar jam 5 sore saja, karena siang ini mau istirahat di kamar dulu.

Beres urusan rental motor, kita pun makan siang di kamar lalu istirahat. Ga lupa kita request es batu dalam gelas diantar ke kamar buat minum teh botol yang uda dibeli di suermarket sebelumnya he..he.. Intinya pelayanan hotel ini patut diacungi jempol. Jujur kami berdua ga punya ekspektasi tinggi untuk hotel di Bali ini, karena merasa dapat kamar dengan harga cukup murah saat liburan tahun baru ga mungkin berharap banyak. Harga yang kami dapat saat itu 300rb permalam. Ternyata kamar hotel kami cukup luas, bersih, kamar mandi pakai bathub, tv, AC dll, juga ada tempat duduk didepan kamar plus jemuran baju. Dan kenapa dari awal pilih hotel ini, karena melihat foto kolam renangnya. Ternyata memang area kolam renangnya ditata dengan sangat cantik. Wah fasilitas dan pelayanannya jauh sangat baik dari ekspektasi kami berdua. Mbak resepsionis yang menerima kami pertama kali memberikan kami sarapan gratis untuk 2 malam pertama, walau harga yang kami bayar belum termasuk sarapan, tapi dia dengan sangat baik memberi kami sarapan gratis. Dan senangnya sarapan di hotel ini bisa dilakukan kapan saja, jadi dilayani selama 24jam untuk sarapan, tinggal ke cafe atau telpon dari kamar ke cafenya lalu pesan menu sarapan apa yang kita mau. Benar-benar menyenangkan, saya sangat merekomendasikan hotel ini.
Kamar di Si Doi Hotel Legian.

Kamar mandi Si Doi Hotel.
Kamarnya cukup luas.
Kolam renangnya yang menyenangkan.
Setelah istirahat siang itu, sorenya kami pun siap-siap untuk mengejar sunset di pantai Kuta. Jam 5 motor yang kami sewa diantar oleh Bapak rental motornya. Urusan rental motor ditangani oleh Bang Tomi. Karena uda ada motor kita pun langsung jalan ke pantai Kuta. Wah ternyata sore itu pantai Kuta ramai sekali, untungnya pakai motor jadi walaupun macet kita bisa selap selip lewat jalan pintas he..he.. Sore itu sunsetnya pas banget, ga ketutupan awan. Jadi langsung pasang aksi buat foto-foto narsis he..he..
Walau pantai Kuta ramai, tapi kita tetap happy.

Kita dan sunset.

Kiss sunset.
Hubby & sunset.
Sunset yang indah di Kuta.

Ternyata persis didepan pantai Kuta sekarang ada mall baru namanya Beachwalk, wah ketahuan uda lama ga ke Bali jadi ga tau ada mall baru ini. Eh pas mau masuk Beachwalk saya lihat ada orang foto-foto di rooftopnya. Saya pun ajak abang buat naik kesana, ternyata itu rooftop milik Sheraton hotel yang memang bersebelahan dengan beachwalk. Pas mau masuk Sheraton hotel saya tanya ke securitynya apakah kita bisa naik ke rooftop itu, ternyata bisa dan itu adalah bar mereka. Ya uda saya pun naik sama abang dan foto-foto di rooftop Sheraton hotel. Malah sampai difotoin ma mbak-mbak pelayannya he..he.. Tapi suasana senja disana memang enak banget, puas foto dan lihat-lihat kita pun turun ke beachwalk mall nya.
 
Rooftop hotel Sheraton Kuta.
Kita difotoin ma mbak pelayannya.

Memang bagus view sunset dilihat dari atas sini.

Good view.
Dibawahnya ada kolam renang hotel Sheraton.

Ini kolam renang Hotel Sheraton Kuta.

Macetnya jalanan Kuta senja itu.

Ternyata ada Victoria's Secret yang lagi sale akhir tahun disana. Wah saya benar-benar tergoda buat belanja, tapi sayang parfum bombshell kesukaan saya ga diskon. Trus pas lihat barang-barang lainnya ga da yang suka motif atau modelnya. Karena memang katanya uda banyak yang abis hiks..hiks.. Ya uda akhirnya kita jalan-jalan keliling beachwalk, sempat girang banget pas lihat ada ibu-ibu bawa minuman bubble tea chatime sekantong, trus nanya beli dimana, soalnya dari kemaren-kemaren ngidam pengen minum bubble tea. Eh si ibunya malah mau ngasi saya minumannya he..he.. Tapi saya sungkan buat ambil, walau ibunya bilang gapapa mbak, tetap saya bilang mau beli sendiri aja bu, terima kasih. Jadi dikasi petunjuk tempat belinya didalam beachwalk. Uda puas jalan-jalan di beachwalk kita pun lanjut ke nasi pedas bu Andika. Malam ini memang saya pengen makan nasi pedas bu Andika, kangen soalnya.

Nasi pedas bu Andika yang ngangenin.

Eh pas dijalan sempat lewatin pasar seni gitu. Trus minta si abang berhenti, saya bilang mau lihat-lihat sebentar sapa tau ada baju bali yang lucu dan harganya cocok. Abang nunggu dimotor aja, soalnya pasarnya juga uda tutup sebagian karena uda malam. Saya lihat-lihat pas dibelakang ada satu toko yang dress balinya lucu-lucu jadi masuk dan cobain. Lalu mulai deh tawar menawar (maklum ibu-ibu kalau ga nawar di pasar ga afdol rasanya he..he..). Harga cocok model pun oke akhirnya beli 2 baju deh disana. Abang pun senang lihat saya bawa tentengan, soalnya dia juga suka lihat saya pakai dress pantai bali kalau di rumah he..he.. Memang uda diniatin belanja selama di Bali, makanya di Lombok ga belanja he..he..

Beres dari pasar seni, kami pun lanjut ke nasi pedas bu Andika. Untung si abang masih ingat jalan ke sana. Jadi ga lama sampai. Wah ternyata malam itu suasananya ramai sekali. Saking ramainya kita duduknya satu meja bareng tamu yang lain. Untung pelayanan disini cepat, jadi ga lama kita pun langsung makan. Habis makan saya ga langsung pulang ke hotel, tapi sempatin lihat-lihat barang yang dijual di toko-toko samping nasi pedas bu Andika. Eh ada topi lucu warna pelangi, pas dicobain bisa masuk sanggul n jilbab saya, jadinya dibeli deh he..he.. Lumayan buat gaya dan menahan sinar mentari ke wajah selama di Bali. Baru deh kita balik ke hotel. Bali selalu menyenangkan buat dikunjungi, sering-sering ke Bali juga ga bakal bosan kayaknya he..he.. Next saya bakal cerita perjalanan saya ke Ubud Bali. Ikutin terus ya, dan semoga bermanfaat.

Selasa, 16 Februari 2016

Lombok Day 7 (Rinjani Lodge)

Rinjani Lodge.
Hari ini adalah hari terakhir kita di Lombok. Kita berniat buat jalan-jalan ke desa Seneru yang terletak di kaki gunung Rinjani. Lalu malamnya kami akan menyeberang menggunakan feri malam ke Bali. Niat ke Seneru karena pengen lihat satu resort yang memang terkenal di sana dan banyak dikunjungi oleh para traveler, namanya Rinjani Lodge. Resort ini terkenal dengan view infinite poolnya yang keren abis. Tergoda dengan foto-foto yang dari resort ini kita jadi pengen merasakan sensasi berenang di kolamnya dan melihat langsung view keren itu. Dan dari info yang didapat untuk bisa berenang di infinite poolnya, kita tidak perlu harus menginap di resortnya, tapi cukup dengan memesan makanan di restoran resort ini, kita sudah bisa free berenang alias gratis berenang sepuasnya he..he..

Kita keluar kamar sekitar jam 10, lalu langsung check out dan menitipkan koper di resepsionis hotel. Ternyata mesin gesek atm di hotelnya ngadat, alhasil mesti nyari atm terdekat buat bayar hotel secara cash. Beres urusan hotel, kita langsung cabut menuju Seneru dengan motor sewaan. Dari peta lumayan jauh kayaknya, tapi kita ga tau seberapa jauh. Untuk arah ke Seneru kita melewati Pusuk dan pelabuhan Bangsal, lalu perjalanan diteruskan ke arah gunung Rinjani. Dan ternyata perjalanan ini jauh..jauh sekali serasa tak berujung. Beberapakali kami berhenti menanyakan arah ke penduduk setempat. Soalnya kok rasanya ga sampai-sampai he..he.. Tapi sepanjang perjalanan pemandangannya oke banget, sebelah kiri kita pantai dan sebelah kanan kita pegunungan, jadi sedikit terobati. Ternyata memang jauh jaraknya, dari speedo meter motor Bang Tomi bilang jarak yang ditempuh dari mataram ke Rinjani Lodge kurang lebih 80km-90km, lebih jauh dari pada ke Pantai Pink kemaren huaa.. Kita baru sampai di Rinjani Lodgenya sekitar jam 2 siang, setelah kurang lebih 3 jam perjalanan dengan motor.

Nemu tulisan ini dengan latar sawah hijau, wah kita uda keliling Lombok nih, Karangkates.
Rinjani Lodge ini terletak di desa Seneru, yang merupakan desa start awal para pendaki yang ingin mendaki gunung Rinjani. Di Seneru juga banyak terdapat guesthouse atau penginapan untuk para pendaki, dan Rinjani Lodge salah satu resort yang mewah disana. Sesampai di Rinjani Lodge, kita bakal dibuat kagum dengan view infinite poolnya, benar-benar keren. Tapi sayang saat kami datang cuaca tidak bersahabat, hujan dan berkabut. Hal ini mematahkan semangat kami untuk berenang (sedangkan uda bawa peralatan renang huu). Jadinya kita hanya leyeh-leyeh dan makan di restorannya saja. 

Disambut gerimis saat datang.

Beda ya, kalau saya yang ambil foto, kok bisa lebih bagus cahayanya he..he..
Saat kami datang suasana restoran Rinjani Lodge cukup ramai oleh pengunjung, soalnya memang bertepatan dengan liburan akhir tahun yaitu tanggal 31 Des 2015. Alhamdulillah kami dapat tempat duduk yang cukup strategis di restorannya, yaitu di bagian lesehan yang menghadap langsung ke jurang hijau pepohonan, tapi dikejauhan kita pun masih bisa melihat pantai dan laut, indah sekali. Walau lesehan tapi kita tetap dikasi sofa bantal besar-besar berwarna hijau untuk duduk sambil tiduran jadi nyaman banget untuk melepas lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Tak lama pelayanan datang membawakan menu makanannya. Namanya juga resort jangan kaget lihat harga makanannya ya he..he..mehong pasti. Akhirnya kita pesan deh makanannya, karena kelaperan dan pengen nasi jadilah pesan nasi goreng seharga 50 ribu he..he.. Trus pesan es green tea buat minumnya. Selagi nunggu makanannya datang kita foto-foto dulu di restorannya.

Ini view restoran di Rinjani Lodge resort.
Sofa bantal di restorannya bikin betah leyeh-leyeh.
Dari kejauhan terlihat laut dari sini.
Enjoy that view.
With U.
Wah ternyata lama banget lho kami menunggu makanannya. Sedangkan perut uda keroncongan, sampai-sampai kita mesti nanya pelayannya tentang pesanan kami. Jawabannya standar "iya, lagi dimasak mbak." Karena masih lama jadinya kita foto-foto di infinite pool depan restoran. Kabut dan masih sedikit gerimis saat itu. Cuma sayang aja kalau ga memanfaatkan waktu yang ada.

Sayang lagi mendung.

Inilah yang dilihat di infinite poolnya.
Infinite pool rinjani lodge.
Hampir 30 menit menunggu barulah si nasi goreng itu datang. Ya elah resort kok pelayanannya lelet amat yak, cuma pesan nasi goreng doang juga. Karena uda laper, kita langsung santap aja tu si nasi goreng, ternyata oh ternyata rasanya kalah ma nasi goreng abang-abang gerobakan, masih jauh lebih enak tu nasi goreng abang-abang gerobakan hiks..hiks.. Trus green teanya cuma dikasi air panas pake green tea pack dilmah pake gula dikit lalu dikasi es. Ya elah ini mah di rumah gw juga hari-hari minum green tea dilmah pack ini. Asli kecewa berat ma mutu makanan dan minumannya. Ga sebanding ma harganya yang selangit. Sayang saya ga sempat foto makanannya uda keburu abis karena kelaperan.

Lupakan makanannya, nikmati saja suasana dan viewnya. Beres makan, kita pun lanjut jalan-jalan mengeliling resort ini. Sebenarnya resortnya tidak terlalu luas, tapi ditata sedemikan rupa dan terletak dipinggir jurang dengan view hutan hijau bikin viewnya memang keren abis. Ternyata infinite poolnya ga cuma satu, tapi ada dua. Saya pun ga ketinggalan foto-foto di infinite pool yang kedua ini, asli lebih keren dan cuacanya pun mendukung.

Ada taman-taman seperti ini di Rinjani Lodge.

Lupakan rasa makanannya, nikmati saja viewnya.

Infinite pool kedua di Rinjani Lodge.

Asli saya takut jatuh.

Kolam renang yang ini lebih keren dan cuaca pun mendukung.
Setelah puas menikmati Rinjani Lodge, kita pun memutuskan buat balik ke Mataram sore itu. Seperti biasa perjalanan pulang terasa jauh lebih pendek dari pada perjalanan saat berangkat. Mungkin karena kita uda tau jalan dan ga diburu waktu. sampai di Mataram sekitar jam 6 sore. Sebelum ke hotel saya sempat nyari taxi buat dipesan untuk nanti malam ke pelabuhan Lembar. Pelabuhan Lembar adalah pelabuhan yang digunakan untuk tempat berlabuhnya kapal tujuan ke pulau Bali. Malam ini kami memang berencana mau melanjutkan trip kami ke pulau Bali. Ketemu taxi dan deal dengan bapak supirnya bayar borongan 100ribu ke pelabuhan Lembar untuk nanti malam. Kita pun sempat bertukaran no telpon.

Tampak depan M hotel Mataram.
Kenapa saya nyari taxi dari sore, karena takut susah nayri taxi nanti malam karena pas malam tahun baru. Tadi sempat nanya-nanya resepsionis hotel, katanya malam tahun baru di Mataram jalanan selalu ramai dipadati penduduk yang merayakan malam tahun baru. Jadi buat mengatasi hal itulah kita pesan taxi dari sore. Abis magrib kita pun cobain makan ayam taliwang di dekat hotel. Lagi-lagi kecewa ma rasanya yang biasa aja. Abis makan kita nungguin taxi pesanan kita di lobbi hotel, jam 8 malam bapak taxinya sempat telpon katanya lagi antar tamu dulu. Uda sampai jam 9 malam tu taxi belum juga datang, akhirnya saya telpon eh bapaknya bilang taxinya mogok ya elah kok ga ngabarin dari tadi.

Saya pun sempat nyari taxi keluar hotel, tapi taxinya ada penumpang semua. Trus nanya ke resepsionis hotel apakah bisa pesankan taxi untuk kita. Ternyata bisa, dan kami pun bisa bayar tanpa argo alias borongan pake taxi express. Alhamdulillah ga lama taxinya datang, trus pas nanya ke pak supirnya apakah bisa borongan, untung dia mau dengan harga sama dengan yang tadi sore yaitu 100ribu. Kenapa kita pakai sistem borongan karena kalau pakai argo takutnya kemahalan karena katanya jalanan ramai jadi macet dimana-mana secara ini malam tahun baru dan ga hujan he..he.. Jadi kami pun berangkat ke pelabuhan Lembar diiringi suara tiupan terompet sepanjang jalan he..he.. Alhamdulillah supir taxi yang kami naiki ini orang baik, jalannya santai dan kita banyak bercerita tentang tempat-tempat wisata di Lombok.

Kami sampai di pelabuhan Lembar sekitar jam 22.30 malam. Suasana pelabuhan malam itu tampak sepi. Saat masuk pelabuhan kita langsung disambut petugas penjual tiket. Harga tiket kapal ke Bali kurang lebih 50 ribu perorang dan kapalnya ada setiap jam. Saat kami datang, kapal yang sedang merapat adalah kapal untuk keberangkatan jam 11 malam. Kami pun masuk ke ruang tunggu penumpang, disana ketemu ibu-ibu yang juga mau naik kapal ke Bali. Dari obrolan kami dengan ibu ini, kami akhirnya memutuskan buat naik kapal jam 12 malam aja agar sampai Bali pas di pagi hari. Ibunya bilang kalau naik kapal jam 11 sampai Balinya dini hari, nanti susah cari angkutan di Bali nya. Bener juga, soalnya perjalanan kurang lebih 5 jam. Jadilah kita pun naik kapalnya yang jam 12 malam bareng ma ibu itu.

Suasana di ruang tunggu pelabuhan Lembar malam itu.

Pelabuhan Lembar di malam pergantian tahun.
Pas jam 23.40 kita pun naik kapal bareng-bareng dengan penumpang lainnya. Kapal yang dipakai adalah kapal besar yang bisa mengangkut truk dan kendaraan lainnya. Rasanya seperti naik kapal penyeberangan dari Merak ke Bekauheni, jadi penumpang duduk di bagian atas kapal, sedangkan kendaraan di bagian bawah. Oya saat diatas kapal ini ada petugas yang berkeliling menyewakan tempat tidur diatas kapal.

Pas jam 12 malam kapal kami pun berangkat menuju pulau Bali. Kapal kami berangkat diiringi dengan suara petasan dan ledakan kembang api di udara menandakan tahun baru 2016. Sayang saya terlalu lelah untuk mengabadikan semua itu dengan kamera saya. Yang ada saya malah ambil posisi tiduran di tempat duduk kami yang panjang dengan kepala dialaskan paha suami tercinta. Malam itu untuk pertama kalinya kami melewati malam tahun baru diatas kapal dan dalam perjalanan. Bagi saya yang penting bisa melewati malam pergantian tahun baru dengan suami tercinta dan dengan keadaan sehat wa'alfiat saya sudah sangat bersyukur. 

Karena kecapean saya pun langsung tertidur, dibelai suami tercinta yang berbisik tidurlah sayang. Beberapa kali saya merasakan tangan Bang Tomi menghapus keringat diwajah saya. Maklum kami naik kapal murah yang ga da AC nya, jadinya saya pun tidur bersimbah peluh. Tapi abang selalu menjaga dan memperhatikan, ga jarang juga Bang Tomi berusaha mengipasi saya agar dapat tidur dengan nyaman. Malam pergantian tahun yang ga kan saya lupakan. Makasih ya suamiku, atas cinta dan kasih sayangnya. I love U.. Next saya bakal cerita tentang perjalanan kami selama di Bali. Ikuti terus ya dan semoga bermanfaat..

Sabtu, 13 Februari 2016

Lombok Day 6 (Pantai Pink)

Pantai Pink.
Hari ini kita berencana mau ke pantai pink, yang katanya oke banget. Sempat baca di blog Amrazing dan lihat foto-fotonya yang keren abis, bikin tergoda melihatnya langsung. Secara katanya pantai pink ini hanya ada beberapa di dunia dan di lombok ini salah satunya, selain di pulau Komodo yang memang uda tersohor sebelumnya. Kumpulin info sebelumnya kalau akses jalan menuju pantai pink memang masih jelek banget, katanya kita bakal melewati jalanan tanah bergelombang dan berbatu sejauh 15km, belum lagi jaraknya yang jauh dari kota Mtaram. Karena uda tau bakal menempuh jalan yang cukup jauh dan ga nyaman, jadinya kita uda siapin mental & fisik sebelumnya.

Sengaja perginya pagi karena katanya butuh waktu kurang lebih 3 jam mencapai pantai pink dari kota Mataram. Oya sebelum berangkat kita sempat nanyain ke resepsionis hotel apakah kita uda bisa pindah ke kamar yang double bed sekarang, ternyata belum bisa karena tamunya belum check out. Kita dijanjiin sore uda bisa pindah kamar. Sebelum ke pantai pink, kita sarapan nasi kuning dulu di dekat hotel. Ga lupa beli cemilan untuk dimakan pas leyeh-leyeh di pantai nanti. Kita berdua pakai motor yang kita sewa dari hotel kemaren. Sepanjang perjalanan matahari bersinar terik, dan kita mengendarai motor berhadapan dengan matahari terbit. Alhasil gosong dan belang ni muka karena terpapar sinar mentari langsung. Tapi demi melihat pantai pink kita rela.

Setelah 2 jam melewati jalan raya mulus, akhirnya kita mesti melewati jalan tanah bergelombang dan berbatu itu. Wah si abang sampai hati-hati sekali mengendarai motornya karena takut kita jatuh. Kita kira uda dekat pantainya, ternyata itu masih jauh banget, melewati perkampungan dan hutan, mana jalannya naik turun dan rusak parah. Pantes banyak mobil rental dari mataram yang ogah anterin tamu ke pantai pink ini karena jalannya jelek banget. Setelah kurang lebih 1 jam melewati jalan jelek itu akhirnya kita sampai juga di pantai pink. Tapi alangkah kecewa kami, karena pantai itu tidak berwarna pink seperti yang difoto Amrazing hiks..hiks.. Terbayang lelahnya perjuangan sampai sini, malah ketemu pantai yang ga lagi berwarna pink, trus rame banget lagi ma anak-anak kampung yang lagi berenang, wakwaw.. Ga da lagi pantai pink yang berwarna pink dan sepi dari turis, sekarang malah uda ada orang-orang yang jualan di pantai ini.

Pantai pink yang uda rame.
Karena kecewa dan cape, akhirnya kita berdua malah mutusin buat tidur aja melepas lelah. Tinggal bentangin kain bali dibawah pohon rindang diatas pasir trus tidur deh berdua, kaya bule-bule lagi berjemur gitu. Tapi kita mah ga berjemur, memang gempor selama perjalanan pake motor 3 jam, makanya pengen tiduran he..he.. Setelah sempat tertidur bentar dan merasa seger lagi, kita pun mengabadikan moment selama di pantai pink ini. Walau kecewa, kita tetap bawa enjoy aja, namanya juga berpetualangan ga selamanya dapat yang bagus-baguskan he..he...
Muka gosong.
Susah dapat spot kosong gini.
Sayang uda ga pink lagi.
You will see me.
Puas menikmati pantainya, kita tertarik buat naik ke atas bukit disisi kiri pantai. Soalnya kita lihat banyak orang yang naik ke atas bukit tersebut. Dan ternyata memang dibalik ke-apesan kita ternyata pantai pink masih menyimpan keindahan lainnya yang bisa kita nikmati diatas bukit ini. View diatas bukit itu keren abis, kita bisa melihat view kearah pantai pink dan pantai lain yang berdekatan juga. Dan satu hal lagi air laut pantai pink ini jernih, dari atas bukit saja kita bisa melihat bayangan terumbu karangnya yang masih terawat. Pantas banyak turis yang snorkling disini. Sayang saya ga bawa peralatan buat berenang, jadi ga bisa ikut nyemplung deh.

Pantai yang bersebelahan dengan pantai pink.

Pantai pink dari atas bukit, indah.

Ternyata walau uda ga pink lagi, tetap cantik dari atas sini ya.
Bukitnya ternyata cukup luas jadi kita explore sampai ke sisi lainnya yang mengarah ke tengah laut. Ternyata pemandangannya juga spektakuler abis. Saya sampai menarik kata-kata saya bahwa rugi habisin waktu 3 jam ke pantai pink yang uda ga pink lagi itu. Karena ternyata view dari atas bukit ini memang indah banget. Sampai-sampai rasanya pengen foto-foto terus saking indahnya he..he.. Nah itulah nikmatnya traveling sendiri kita bebas menentukan dan menikmati waktu kita ditempat-tempat yang kita suka tanpa diburu-buru. Jadi buat teman-teman yang mau ke pantai pink, silakan saja nikmati perjalanannya yang panjang dan melelahkan. Tapi semua itu terbayar kok dengan view yang dihadirkan dari atas bukit pantai pink. Jadi jangan takut item ya he..he..

Keliling bukit, viewnya kayak gini.
Lagi kangen yoga ni ceritanya.

That view.

Abang disisi bukit yang lain.

Pantai pink done.

Lelah 3 jam diatas motor terbayarkan.
Dengan penuh senyuman kami menuruni bukit. Merasa lelah diatas motor 3 jam dengan jalan penuh liku itu terbayar oleh view diatas bukit ini. Benar-benar mengobati kekecewaan yang sempat hinggap kala melihat pantai pink yang sudah tidak pink lagi he..he.. Karena merasa sudah puas berkeliling pantai pink, kami pun memutuskan untuk balik ke kota Mataram. Melewati jalanan rusak nan jauh itu. Apalagi pas pulang ini kami sempat diguyur hujan deras. Tanpa jaket hujan kita tetap lanjutin perjalanan, sampai baju yang tadinya basah karena kehujanan jadi kering lagi, kita baru sampai di kota Mataram. Huaa..benar-benar perjalanan yang penuh perjuangan kalau saya bilang he..he.. Sampai di Mataram kita balik dulu ke hotel karena akan pindahin barang ke kamar yang tipe double bed. Setelah pindah kamar, kita solat dan istirahat dulu.

Kamar double bed di M Hotel Mataram.
Sehabis itu sorenya kita berdua rencananya mau nyari tempat makan ayam taliwang di Mataram. Pas nanya-nanya ke orang, diarahkan ke depan Mataram Mall, katanya disana banyak yang jual. Sebenarnya didekat hotel uda ada yang jual tapi kok saya ga berselera lihatnya. Pas mau menuju Mataram Mall, kami melihat satu tempat makan bebek goreng yang rame dikunjungi orang-orang. Kalau ga salah nama tempat makannya Bebek Goreng bumbu hijau khas Surabaya. Karena ramai kita pun penasaran dan berhenti. Maklum prinsipnya kalau ada tempat makan yang ramai itu berarti pasti enak, apalagi ramenya bukan oleh turis tapi oleh penduduk asli kota Mataram. Saya pun masuk ke tempat makan ini buat lihat menu-menunya. Wah makin ngiler pas lihat bebek gorengnya dihidang. Lapor ke Bang Tomi, kayaknya enak bang, gimana?? Akhirnya kita berdua mutusin buat makan disini aja, besok aja makan ayam taliwangnya he..he..

Kita pun duduk di meja yang masih kosong dan langsung didatangi pelayan yang mengantarkan menu. Setelah melihat-lihat akhirnya kita pesan nasi, bebek goreng, ayam goreng dan 1 porsi ceker ayam goreng. Pesan ceker ayam goreng ini karena melihat pesanan meja sebelah yang menggiurkan ceker ayam gorengnya huaha..ha.. Minumnya es teh manis. Ga lama pesanan pun mulai datang. Dan tampilannya menggugah selera.
Tapi ada yang sedikit aneh melihat sambel yang dikasi cuma seumprit yaitu cabe merah dan cabe hijau. Karena merasa dikit banget sambelnya ya saya minta lagi dong. Secara orang Padang kan doyan cabe. Tetap dikasinya seumprit lagi he.he.. Ya uda, saya pikir ni tempat makan pelit amat kasi sambel. Cabe mahal kali. Ternyata pas mulai makan, barulah saya tau kenapa tu cabe ga dikasi banyak-banyak karena pedasnya ampun-ampunan. Kita berdua sampai ga bisa berkata-kata mentolerir rasa pedasnya, pedas gila. Jadinya buat suapan berikutnya ambil cabenya dikit-dikit biar ga kepedasan huaha..ha.. Alhasil cabe tambahan yang dikasi pun ga tersentuh karena memang pedas banget. Ha..ha..Orang Padang kelimpungan makan cabe ni ceritanya. Pesan moralnya adalah, jangan sok dulu pas pesan cabenya banyak-banyak sampai suudzon segala, cobain dulu baru yahokk ha..ha..

Bebek goreng endes di Mataram.
Tapi asli ini tempat makan rekomended banget, soalnya makanannya memang maknyus. Kita aja sampai nambah makan disini he..he.. Trus rumah makannya juga bersih dan halal. Pantesan selalu ramai. Menu paling wajib dicoba adalah bebek goreng dan ceker ayam gorengnya. Benar-benar crispy dan bumbunya enak. Oya semua menu gorengannya dilengkapi dengan lalapan. Jadi pasti ada sayurannya. Saya sempat ngobrol-ngobrol ma ibu bapak pemilik tempat makan ini, ternyata cabe yang dipakai buat bikin sambelnya adalah cabe merah dan cabe hijau segar tanpa campuran cabe kering, jadinya pedasnya cuma sementara, sampai di perut ga bikin mules. Beneran lho pedasnya hilang setelah kita selesai makan dan perut pun tidak terasa panas oleh sambelnya, jadi ga berasa mules, pedas sehatlah intinya.

Setelah kenyang kita pun balik ke hotel buat istirahat. Besok kita bakal check out dari M Hotel Mataram, tapi masih jalan-jalan dulu ke desa Seneru di kaki gunung Rinjani. Jadi ikuti terus perjalanan kami ya. Semoga bermanfaat..

Pengalaman Hunting Aurora Yang Sangat Berkesan di Tromso Untuk Kedua Kalinya.

  Hai Miss Aurora. Kalian uda baca pengalaman hunting aurora saya pertama kalinya di Tromso belum? Kalau belum silakan baca disini ya. Soal...