Rabu, 27 Mei 2015

Day 10 Pisa - Roma (Euro Trip 2015)

Menara Pisa
Kami bangun subuh dan bersiap check out hotel untuk segera ke stasiun Venezia Mestre. Pagi ini jam 7.37 kami akan naik kereta Frecciargento 9407 ke Firenze. Tujuan utama kami bukan kota Firenze, tapi kami ingin ke Pisa. Karena tidak ada kereta yang langsung dari Venezia ke Pisa jadinya kita mesti transit di Firenze lalu naik kereta regional ke Pisa. Kereta berangkat ontime dan kereta yang kami tumpangi ini lebih bagus dari kereta yang kami naiki sebelumnya. Tiket kereta yang kami beli secara online seharga 58 Euro untuk 2 orang. Berhubung belum sempat sarapan kita akhirnya sarapan di atas kereta, untung kemaren uda belanja cemilan di supermarket he..he..
Sarapan kami diatas kereta.

Cemilan sehat selama perjalanan.
Perjalanan dari Venezia ke Firenze kurang lebih 2 jam dengan kereta cepat ini. Sepanjang perjalanan kami kebanyakan tidur untuk menghemat energi, tapi agak keganggu dengan satu keluarga dibelakang kami yang ribut dari awal berangkat sampai ke Firenze. Mulai dari ibu, ayah, tante, om dan anak-anaknya pada ngomong dengan suara kencang, ga tua, ga muda, ga laki, ga perempuan semua ribut ngomong.. Hadeh..yup di belakang kami duduk keluarga Italia asli cerewet semua. Bang Tomi yang biasa pelor (nempel langsung molor) sampai ngomel-ngomel karena keganggu ma berisiknya mereka he..he..
Ngantuk ya masbro.
Kereta api yang nyaman dari Venezia ke Firenze.
Akhirnya kami sampai juga di stasiun S.M Novella Firenze. Di sana kami langsung antri untuk beli tiket kereta regional ke Pisa. Kereta regional dari Firenze ke Pisa ini ada tiap jam, jadi tiketnya open dan bisa beli langsung di stasiun. Kami rencananya hanya mampir sekian jam di kota Pisa, untuk melihat menara miring Pisa yang terkenal itu. Selanjutnya kami akan naik kereta lagi menuju kota Roma. Tiket kereta dari Pisa ke Roma sudah kami beli secara online sejak dari Indonesia. Perjalanan kali ini cukup hectic, jadi ayo semangat dan Bismillah.. Ga lama setelah kami membeli tiket kereta regional ke Pisa, kami langsung menaiki kereta itu. Kami ingat pesan teman kami Edo, kalau kereta regional itu suka penuh, kalau tidak dapat duduk ya berdiri selama 1 jam perjalanan. Jadi ya cepat-cepatan naiknya biar dapat tempat duduk. Untung kita segera naik, karena memang kereta itu penuh dan ada yang berdiri.

Sekitar jam 11 siang kami samapi di stasiun Pisa Centrale. Lalu langsung mencari tempat penitipan koper disana untuk menitipkan 2 koper kami. Biaya penitipannya 4 euro setiap kopernya. Setelah urusan koper beres, kita bergegas ke halte bus untuk menuju menara miring Pisa. Jarak dari stasiun ke menara pisa cukup jauh, jadi memang mesti pake bus. Males repot beli tiket bus, dengan wajah penuh keyakinan (gratis) kami naik bus ke menara pisa bersama dengan puluhan turis lainnya he..he.. Sampai di menara miring Pisa kita langsung melakukan photoshoot he..he..
Pisa.

Rame turis yang datang ke sini.

Sayang kita ga punya banyak waktu untuk masuk ke dalam.

Gaya standar turis-turis yang foto di sini he..he..

Cupid.
Setelah puas foto-foto dan mutar-mutar area Menara Pisa. Kita lanjut hunting souvenir yang dijual disana. Ga kerasa uda jam 1 siang dan perut uda mulai keroncongan. Karena didekat sana adanya McD ya terpaksa kita makan di McD buat lunch. Selesai makan jam 2 siang, kita balik lagi ke halte untuk nunggu bus buat kembali ke stasiun Pisa Centrale. Uda 30 menit kita menunggu tidak ada satu pun bus yang lewat. Panik mulai melanda, karena kereta api ke Roma berangkat jam 14.54 dari stasiun Pisa. Sedangkan jam 14.30 kami masih stak nunggu bus di daerah menara Pisa.

Tanya kiri kanan, ternyata di halte ada pengumumannya kalau setiap hari Minggu bus tidak beroperasi normal, ada jam-jam nya. Bus baru lewat jam 15.00 nanti karena ini hari Minggu. Akhirnya kami berlari ke arah stasiun, dengan harapan bisa sampai tepat waktu dan tidak ketinggalan kereta ke Roma. Tapi sebenarnya hal itu tidak mungkin karena jaraknya yg cukup jauh. Sambil berlari itulah saya ada ide buat memberhentikan mobil yang lewat untuk minta tumpangan sampai ke stasiun Pisa Centrale.

Saya berdiri agak ke tengah jalan sambil berusaha memberi kode ke mobil yang lewat. Mobil pertama gagal, mobil kedua berhenti dan membuka kaca. Lalu dengan memohon saya meminta tumpangan ke pria yang membawa mobil itu. Sejenak dia melihat ke arah istrinya, lalu istrinya mengangguk tanda oke. Wah Alhamdulillah kita bisa numpang mobilnya. Di dalam mobil kami menjelaskan kalo uda setengah jam menunggu bus tapi tak kunjung lewat, makanya kami panik dan minta tolong karena kereta berangkat jam 14.54. Tapi sayang sekali suami istri ini tidak bisa berbahasa Inggris, tapi mengerti apa yang kami katakan. Mereka lalu bilang kalo mereka dari Albania, lalu saya spontan bertanya Are U Muslim? Yes, mereka muslim. Subhanallah, siapa yang mengira di negeri antah berantah ini kami ditolong oleh sesama Muslim, benar-benar pertolongan Tuhan.

Kami diantar sampai ke depan stasiun. Kami berulang kali berterima kasih kepada suami istri ini. Alhamdulillah jam 14.45 kami sudah berada di stasiun Pisa Centrale. Langsung kami ambil koper di penitipan dan menunggu kereta Intercity 511 yang akan membawa kami ke Roma. Karena kereta belum datang saya malah asyik melakukan hal-hal lain he..he..
Lagi nunggu kereta datang, saya asyik gunting kuku, candid by husband.
Sekitar jam 14.50 kereta Intercity 511 datang. Kami bergegas masuk, karena kereta ini tidak berhenti lama di stasiun ini. Nah model kereta ini lain dari kereta-kereta sebelumnya. Kereta Intercity 511 di dalam gerbongnya terdapat kotak-kotak seperti kereta ke Hogwarts dalam film Harry Potter. Setiap kotak berisi 6 kursi saling berhadapan. Nah karena kita ga ngerti layout keretanya seperti ini, jadinya saat beli online kita memilih tempat duduk di kotak yang berbeda he..he.. Tapi syukur banget keretanya kosong, jadi kita bisa menguasai 1 kota berdua saja. Tadinya ada 1 orang laki-laki yang mestinya duduk di kotak yang sama dengan kita. Tapi dia urung masuk dan memilih pindah ke kotak yang lain he..he.. Jadinya kita berdua bisa tidur lempeng selama perjalanan ini.
Model dalam gerbong kereta Intercity 511.

Bisa tidur lempeng, karena cuma kita berdua dalam box ini.
Kereta Intercity 511 ini bukan kereta cepat, perjalanan dari Pisa ke Roma memakan waktu 3 jam dengan kereta ini. Tiket yang kami dapat saat itu seharga 38 Euro untuk 2 orang. Pemandangan selama perjalanan bagus lho. Karena ternyata kita lewat di pinggir pantai. Jadi view di jendelanya laut, keren.. Sayang Bang Tomi malah asyik tidur, mungkin karena kecapaian he..he..

Jam 18.00 kami tiba di stasiun Termini Roma. Dari termini kami jalan kaki menuju hotel Fiorenza yang letaknya cuma 5 menit dari stasiun. Setelah Check In, kita keluar lagi buat nyari makanan dan melihat-lihat area sekitar termini. Akhirnya kami belanja beras dan cemilan di supermarket. Karena rendang masih ada, malam itu kita makan nasi panas pake rendang..maknyus.. Tapi pas mau tidur, kami kedinginan, cek heater ternyata ga nyala. Ya uda kita komplain ke resepsionisnya. Ternyata setelah komplain baru dinyalain, tapi tetap aja ga membantu karena heater di kamar kami kecil sekali sedangkan langit-langit kamarnya tinggi. Kami akhirnya minta ganti kamar, cuma resepsionisnya ga bisa pindahin kami ke kamar lain karena kamarnya penuh. Tapi dia janji besok pagi kami bisa pindah ke kamar lain yang heaternya lebih besar. Ya udah malam itu kita tidurnya pelukan biar saling menghangatkan. Next saya akan cerita tentang pertualangan kami di kota Roma, lihat postingan berikutnya ya.

Semoga bermanfaat..!!!

Selasa, 26 Mei 2015

Day 9 Venezia - Italia (Euro Trip 2015)

Malam minggu romantis di Venice.
Karena kelelahan kita berdua bangun kesiangan hari ini. Malah ga tau kalo Edo si empunya apartemen uda berangkat ke Napoli pagi tadi. Kami berada pas di long weekend paskah, jadinya orang-orang pada keluar kota buat liburan termasuk Edo. Karena kereta api kami ke Venezia berangkatnya siang jadinya kita rada santai pagi ini. Saya menyiapkan sarapan dan packing barang. Baru abis itu bangunin Bang Tomi, buat sarapan dan siap-siap. Ga kerasa uda jam 11 aja, sedangkan kereta kita ke Venezia jam 11.35. Alhasil kita jadi terburu-buru ke stasiun Milano Centrale buat ngejar kereta. Yap kita lari sambil angkat koper, pupus sudah harapan buat foto-foto dulu di porta romana hiks..hiks.

Syukurlah kita sampai tepat waktu, 5 menit sebelum berangkat kita berdua uda duduk manis di atas kereta FrecciaBianca 9719. Kereta FrecciaBianca 9719 merupakan jenis kereta cepat milik trenitalia. Untuk mencapai Venezia dari Milan hanya membutuhkan waktu 2,5 jam dengan kereta api ini. Waktu itu kita lumayan dapat harga murah karena belinya uda jauh-jauh hari. Tiket kami berdua seharga 37,50 Euro untuk 2 orang. Keretanya sangat nyaman dan bersih.
Kereta FrecciaBianca yang mengantar kami dari Milan ke Venezia.

Suasana didalam kereta.

Sekitar jam 2 siang kami sampai di stasiun Venezia Mestre. Kami turun di stasiun ini karena memang menginap di hotel daerah Mestre yang jauh lebih murah daripada hotel di daerah kota air Venezia. Karena long weekend harga hotel-hotel di daerah Venezia melambung tinggi dan rata-rata sudah penuh sejak 2 bulan lalu. Kami menginap di hotel Vidale tak jauh dari stasiun Venezia Mestre, cukup jalan kaki sekitar 15 menit. Sesampai di hotel kita langsung check in. Resepsionisnya dengan ramah menjelaskan bagaimana caranya menuju kota air Venezia dari hotel. Ternyata gampang sekali, cukup naik bus yang ada didepan hotel, perjalanannya kurang lebih 15 menit. Sebelumnya saya memang sudah baca review yang mengatakan cukup mudah mencapai kota air Venezia dari hotel ini.

Karena kita mau naik bus, otomatis saya dan suami mencari toko rokok untuk membeli tiket bus. Tapi karena libur paskah tidak ada satu toko rokok pun yang buka di dekat hotel kami. Mulai bingung, saat kebingungan nyari toko rokok inilah kami bertemu Bapak-Bapak berwajah melayu. Awalnya suami saya bertanya dengan bahasa Inggris ke Bapak ini. Dia lalu dengan ramah menjawab dengan bahasa melayu. Wah senangnya ketemu orang serumpun. Kami menjelaskan masalah kami, si bapak sambil ketawa malah bilang "tak payah beli tiket, naik saja busnya dengan wajah penuh keyakinan." Lalu tiba-tiba di halte seberang ada bus lewat, si bapak langsung menyuruh kami naik, karena itu bus yang ke kota air Venezia. Berbekal nasehat dari Bapak melayu yang uda lama tinggal di Venezia itu, kami naik bus dengan wajah penuh keyakinan tanpa tiket, Bismillah.. Caranya naik dari pintu belakang berbarengan dengan orang lain he..he..

Sempat dag dig dug juga awalnya takut ada pemeriksaan tiket, tapi benar kata bapak itu jarang ada pemeriksaan tiket bus di Italia. Kami selamat sentosa sampai di terminal Venezia tanpa tiket bus he..he.. Sesampainya di terminal bus ini pemandangan kota Venezia sudah sangat cantik terlihat. Sore itu kami habiskan waktu mengelilingi kota air Venezia sambil berjalan kaki santai. Hampir semua objek di Venezia kami kunjungi mulai dari Grand Canal sampai Ponte dei Sospiri. Berbekal peta yang diberikan oleh hotel kami menyusuri lorong-lorong kota terapung Venezia.
Baru nyampe terminal uda lihat view cantik ini.

Ini jembatan yang menghubungkan terminal bus ke kota air Venezia.

Grand Canal.
Lorong dan canal venezia yang cantik.

View dari Ponte Rialto (Rialto Bridge).

Alhamdulillah bisa sampai di sini.
Jadi menurut saya kota terapung Venezia ini bisa dikelilingi dengan berjalan kaki. Asal kuat jalan aja, karena transportasi di kota ini cukup malah. Paling murah kita naik bus air sebesar 6 Euro untuk 1 jam perorang. Cuma kalo naik bus air ini kita jadinya ga bisa menjelajahi lorong-lorong kota Venezia. Sedangkan yang keren dari kota ini adalah suasana terapung dan lorong-lorongnya itu. Paling asyik lagi kalo sewa gondola, tapi karena terlalu mahal kita mah males. Cukup foto dekat gondola dan pendayung nya saja he..he..dasar budget traveler.
Gondola mehong.

Family with Gondola.

Sama pendayung gondola.
Saat jalan-jalan di Venezia saya melihat banyak orang yang asyik makan es krim gelato sepanjang jalan. Tapi Bang Tomi melarang saya buat beli karena cuaca dingin dan berangin, takutnya nanti malah sakit katanya. Sebab perjalanan kami masih panjang. Ya uda saya tahan deh keinginan buat nyobain gelato saat di venezia, walaupun sebenarnya ngiler abis pengen nyoba. Nyampe di Ponte dei Sospiri saya dengan semangat 45 menceritakan ke Bang tomi sejarah dari jembatan ini. Jadi jaman dulu jembatan ini digunakan untuk membawa narapidana yang akan dihukum, di jembatan ini dibuat celah agar para napi yang lewat itu bisa melihat kota Venezia yang indah terkahir kalinya sebelum mereka dijebloskan ke penjara. Trus ada mitos setiap pasangan yang lewat dibawah jembatan ini, lalu berciuman tepat saat matahari terbenam maka cintanya akan abadi. Kita sih cukup ciuman di didepan jembatannya aja ya sayang he..he.. Maklum ogah sewa gondola buat lewat dibawah Ponte dei Sospiri he..he..
Kiss in front of Ponte dei Sospiri.

Venice memang cantik kalo difoto.

Jalan kaki keliling Venezia siapa takut he..he..
Piazza San Marco.
Setelah puas keliling kota air Venezia dan belanja oleh-oleh. Kami akhirnya balik ke Venezia Mestre. Tetap dengan bekal wajah penuh keyakinan dan tanpa tiket, kami naik bus lagi ke daerah Mestre. Sejak hari itu kami memegang teguh moto "dengan wajah penuh keyakinan" untuk naik bus selama di Italia huaha..ha.. Lumayan menghemat euro.
Koleksi museum di Venezia.

My Best Friend Forever is My Husband.
Sesampainya di Mestre kita mau makan di restoran khas Italia yang ada di dekat hotel. Tapi sayang toko dan restoran di daerah itu pada tutup karena Paskah. Yang buka hanya supermarket. Jadinya kita belanja di supermarket deh. Beli cemilan dan buah. Paling senang pas nemu sekotak stroberi dengan harga 1 euro saja. Mana stroberi nya gede-gede lagi, benar-benar bikin ngiler. Beli deh buat dimakan di hotel nanti dan jangan lupa cemilan buat di atas kereta besok. Yap besok kami akan melanjutkan perjalanan ke kota Pisa, lalu dilanjutkan ke Roma. Yang penasaran baca postingan berikutnya ya.

Semoga bermanfaat..!!!

Senin, 25 Mei 2015

Day 8 Milan - Italia (Euro Trip 2015)



Jump at Duomo
Sekitar jam 6 pagi kami telah bangun dan bersiap-siap. Karena akan berangkat ke Milan dengan kereta api pagi dari Stasiun Luzern. Sebelum check out dari hotel saya sempat mengabari Edo, sahabat kami yang bakal kami temui dan menjadi host kami di Milan. Jam 8 pagi kami telah check out dari hotel dan berjalan santai menuju stasiun, pagi itu cuaca berkabut. Sesampai di stasiun kereta EuroCity 153 yang akan membawa kami ke Milan sudah berada diperonnya. Jadi kita langsung naik dan mencari tempat duduk sesuai dengan no kursi yang tertera ditiket. Awalnya agak bingung mencari kursi kami karena tidak berurutan, ternyata saya dan suami duduknya berhadapan, makanya no kursinya tidak berurutan. 

Perjalanan dari Luzern ke Milan kurang lebih 4 jam. Tapi pemandangan selama 4 jam perjalanan kereta api itu benar-benar istimewa. Karena sepanjang perjalanan kita akan naik turun gunung salju, malah tidak jarang mesti menembus pegunungan dengan masuk ke terowongan. Pokoknya sangat menyenangkan, lihat saja foto-foto berikut.
Pemandangan dari Luzern ke Milan.

Pegunungan dan salju.

Suasana didalam kereta EuroCity 153.
Sesampai di Milan sudah siang, saya lalu men-cek HP. Ternyata ada sms dari Edo yang mengatakan bahwa dia ga sempat menitipkan kunci apartemen ke security tadi pagi. Alhasil kita baru bisa ke apartemennya sore setelah dia pulang kantor. Karena masih siang dan kita mau jalan-jalan di Milan, koper kita titipkan ditempat penitipan yang ada di Stasiun Milan Centrale. Satu koper biaya penitipannya sebesar 6 Euro untuk 5 jam pertama.

Saya sempat mengalami culture shock saat baru nyampe di Milan. Sebenarnya saya uda merasa aneh saat kami tiba di kota perbatasan antara Swiss dan Italia. Saat kereta berhenti ada beberapa orang laki-laki masuk ke kereta dan salah satunya duduk didekat kami. Melihat dandanannya yang necis dan klimis, saya langsung teringat film-film tentang mafia Italia he..he..asli mirip. Yang aneh bukan dandanannya, tapi cara ngomongnya yang cepat dan panjang lebar. Jadi setelah dia masuk dia ngobrol terus sampai kita tiba di Milan. Saya mikir kok ada ya laki-laki berbadan besar dan bertampang mafia cerewet kayak gitu he..he..

Kekagetan saya makin berasa ketika antri di bagian informasi stasiun Centrale Milan, lagi dalam antrian orang-orang italia tetap nyerocos dengan cepat dan panjang lebar. Saking takjubnya saya yang cerewet ini sampai bilang ke suami, "Wah sampai Milan, adek merasa jadi pendiam karena kalah cerewet dari orang Italia Bang..he..he." Suami sampai ngakak dengarnya he..he..

Saat di Milan Centrale, kita sempat bertemu seorang ibu berjilbab dengan 2 orang anaknya yang masih kecil-kecil dari Indonesia. Karena saling menyapa kami akhirnya ngobrol sebentar dengan ibu ini, suami si ibu lagi mencari kounter penjualan tiket metro. Kami memberitahu tiket metro dijual di toko rokok yang ada di lantai bawah, kita juga taunya setelah bertanya di Informasi sebelumnya. Setelah bertukar informasi, kita saling menyemangati untuk tetap menjaga kesehatan dan kesalamatan selama diperjalanan. Salut dengan keluarga ini karena berani traveling keliling Eropa tanpa ikut tour walau membawa 2 orang anak kecil. Ini membuat kami jadi lebih bersemangat dan termotivasi untuk melanjutkan perjalanan sesuai rencana.

Setelah titip koper kami melanjutkan perjalanan ke Piazza del Duomo. Sebelumnya kami membeli tiket metro harian yang bisa digunakan selama 24jam di Milan seharga 4,5 Euro perorang. Sesampai di Piazza del Duomo kita langsung melihat Katedral Duomo yang terkenal itu, disamping kirinya Galeri Vittorio Emanuele II berada. Galeri Vittorio Emanuele II ini adalah tempat belanja paling keren di MIlan. Tapi sayang saat kita disana bagian depan Galeri Vittorio Emanuele II lagi dipugar jadinya ga bisa foto-foto didepannya he..he.. Kita sempat masuk ke dalam Katedral Duomo dan meilhat arsitektur dalamnya. Untuk masuk gereja ini gratis, jadi sempatin masuk ya.
Piazza del Duomo.

Bagian depan Galeri Vittorio Emanuele II yang lagi dipugar.
Di dalam Katedral Duomo.

Katedral Duomo.

Karena belum makan, kita mampir di McD depan Duomo untuk makan siang, suasana siang itu rame banget. Oya kalo uda sampai McD jangan lupa pipis gratis, karena rata-rata toilet di Eropa bayar he..he.. Selesai makan kita lanjut keliling Galeri Vittorio Emanuele II. Disini ternyata ada tempat buat make a wish juga lho, bentuknya kayak cekungan lalu kita mesti taruh salah satu tumit kaki ke dalam cekungan tersebut lalu berputar sebanyak 3 kali (kalo ga salah) sambil make a wish he..he.. Seru juga liat orang-orang pada gantian make a wish disini, kalo kita sih ga lakuin cuma foto aja he..he..
Suasana di dalam Galeri Vittorio Emanuele II.
Make a Wish Hole.

Galeri Vittorio Emanuele II.
Di Galeri Vittorio Emanuele II tidak hanya menyediakan toko brand fashion, tapi juga ada Ferrari Store & Intermilan Store. Storenya seru, jadi bagus buat foto-foto. Saat di Ferrari Store saya melihat jam tangan, lalu bilang ke suami untuk beli jam tangannya buat dia pakai. Eh si Abang malah bilang ga usah. Dan ini bakal saya sesali sampai sekarang karena jam tangan yang kita lihat di Ferrari Store jauh lebih murah harganya dibandingkan dimana pun hiks..hiks..
Intermilan Store.

Ferrari Store.
Ferrari.
Saat di Intermilan Store, Bang Tomi sempat melihat ada orang yang lagi nenteng paperbag Juventus, si abang langsung nanya dimana Juventus Store ke orang itu. Akhirnya kita mutar-mutar Galeri Vittorio Emanuele II buat nyari Juventus Store. Jujur saya kelelahan, tapi ya dinikmati aja. Malah ga sengaja ketemu toko roti Luini, kita penasaran kok orang-orang pada antri di toko roti ini trus yang uda beli asyik makan roti di sekitarnya. Karena rame, mesti dicoba nih, saya ikutan antri. Pas didepan pelayannya ditanya mau beli Luini rasa apa, karena takut ga halal pilihan jatuh ke luini isi tomato mozzarella. Harganya 2,5 Euro satunya, kita beli 2 trus langsung dimakan disana. Wah kejunya benar-benar nikmat, tapi karena merasa ada yang kurang saya tetap tambahin saus sambal yang dibawa dari Indonesia he..he.. Baru mantap..dasar lidah Indonesia he..he..
Luini dan antrian.

Kejunya..
Ternyata susah juga nyari Juventus Store nya, uda gempor keliling kita malah ketemu ACMilan Store, tapi isinya ga semenarik Intermilan Store. Uda sore, kita nyari wifi gratis buat ngabari Edo, karena SMS kita sepertinya ga masuk ke dia. Setelah WA dengan Edo, kita balik ke stasiun Milan Centrale buat ambil koper lalu lanjut naik metro ke apartemen Edo yang ada di Porta Romana. Nyampe apartemen Edo saya tepar, asli badan rasanya cape banget. Tapi senang akhirnya ketemu juga dengan sahabat lama saya satu ini.

Edo adalah teman saya sejak TK, tapi kita akrab sejak SMP karena les matematika di tempat yang sama di Padang he..he.. Sedangkan suami saya dan Edo waktu SMP sekelas, mereka juga satu SMA dan sama-sama kuliah di ITB, jadi Edo bisa dibilang sahabat kami berdua. Saat ini Edo bekerja dan tinggal di Milan, makanya dia salah satu orang yang saya kabari tentang perjalanan kami ke Eropa. Istirahat sambil bernostalgia dengan sahabat lama diapartemennya yang nyaman, bikin kondisi tubuh saya mulai membaik. Saat di apartemen Edo saya cerita tentang culture shock saya tadi. Edo menjelaskan orang-orang Italia memang gitu cara ngomongnya, lebay & panjang lebar he..he.. Tapi mereka ramah-ramah kok apalagi dengan turis. Kalo ini saya pun setuju. Orang Italia memang ramah, mungkin karena mereka doyan ngomong he..he..
Nostalgia di apartemen Edo.
Malamnya Edo mengajak kami makan di salah satu restoran favoritnya. Di sana kita makan pizza dan pasta khas Italia. Saat jalan dari restoran menuju apartemen Edo, kita sempat melihat gerbang tua porta romana, tapi sayang karena ga bawa kamera jadinya ga sempat foto. Abis dari restoran kita masih asyik ngobrol sambil nonton di apartemennya Edo. Cerita ini itu rasanya ga da habisnya. Tapi badan saya kelelahan, jadinya ga bisa begadang, pamit buat tidur duluan. Besok pagi Edo bakal ke Napoli dan kami pun mesti lanjutin perjalanan ke Venezia jadi mesti istirahat malam ini. Next saya bakal cerita malam minggu romantis kami di kota air Venezia.
Thank U Edo.
Semoga bermanfaat.

Selasa, 12 Mei 2015

Day 7 Luzern - Mt.Rigi (Euro Trip 2015)

Semalaman di kereta tidak mematahkan semangat kami untuk menjelajahi daerah di Swiss. Sekitar jam 7 pagi kami tiba di Basel, dari Basel kami lanjutkan perjalanan dengan kereta ke kota Luzern. Lucunya sepanjang perjalanan di kereta saya malah tidur dipangkuan suami, karena masih ngantuk he..he.. Sampai tiba-tiba Bang Tomi bangunin saya, dek lihat deh bagus tuh ada gunung salju katanya. Saya bangun dan melihat ke arah jendela. Sambil bilang wow. Tidak lama setelah itu kereta pun berhenti di stasiun kota Luzern.

Kami tiba di Luzern sekitar jam 9 pagi, tapi masih kayak jam 6 karena cuaca mendung dan berkabut jadi rada gelap. Sebelum menuju hotel, kami pelajari dulu jalan dari stasiun ke hotelnya dari peta yang ada. Ternyata kami mesti melintasi jembatan diatas danau Luzern. Saat melintasi jembatan itulah kami terpukau dengan view disekeliling kami. Dengan wajah masih baru bangun tidur, dan menggeret koper, saya sumingrah melihat sekeliling saya terhampar gunung salju. Kami berdua benar-benar jatuh cinta dengan viewnya. Bang Tomi langsung ngajak foto-foto untuk mengabadikan moment ini he..he.. Biarin deh muka bantal, yang penting foto ma gunung salju dulu. Bukan hanya gunung salju tapi kita juga bisa melihat jembatan kayu Chapel Bridge yang terkenal itu.
Chapel Bridge di belakang kami.

Walau masih muka bantal tetap berfoto ria saking senangnya liat deretan gunung bersalju.
Saat masih di Indonesia, saya berkenalan secara online dengan Pak Krisna. Saya tau Pak Krisna dari forum backpacker Indonesia dan beberapa kali pernah baca blog yang menyebut tentang Pak Krisna. Pak Krisna adalah orang Indonesia yang tinggal di Kriens, tidak jauh dari Luzern. Pak Krisna sangat baik mau membantu kami untuk membelikan Swiss Pass harian di Kriens dan menitipkannya di hostel. Dengan Swiss Pass ini saya bebas naik transportasi apa saja selama di Swiss dan juga dapat potongan 50% untuk tiket ke Mt.Titlis. Benar-benar menguntungkan dan banyak manfaatnya.

Sekitar 15 menit berjalan kaki kami sampai di Lion Logde Luzern, tempat kami menginap. Sesampai disana kami disambut oleh seorang wanita yang duduk dimeja resepsionis. Karena masih pagi tentu kita belum bisa check in. Lalu kami bertanya tentang Swiss Pass kami yang dititip oleh Pak Krisna pada resepsionis tersebut. Dia sedikit bingung karena tidak ada pesan yang ditinggalkan mengenai hal ini oleh owner atau resepsionis sebelumnya. Dia mulai mencari-cari di laci dan beberapa tempat tapi tidak ketemu Swiss Pass itu. Dia juga berusaha menelpon owrner untuk bertanya hal ini. Tapi telponnya tidak diangkat. Ada kekhawatiran kami kalau resepsionis ini sedikit tidak percaya kalau memang ada teman yang menitipkan Swiss Pass untuk kami. Wah kita mulai deg2an, takutnya Swiss Pass nya hilang atau tercecer. Akhirnya kami minta ijin untuk menelpon Pak Krisna dari telpon hostel. Karena nomornya lokal, dia mengijinkan. Tapi Pak Krisna tidak mengangkat telpon kami, malah menelpon balik ke hostel. Akhirnya suami saya menjelaskan masalah yang kami hadapi, lalu Pak Krisna berbicara dengan bahasa Swiss ke resepsionisnya. Lalu si resepsionis bilang, kami tunggu saja di lobby dia berusaha cari dan telpon bos nya untuk nanya.

Kami ke lobby untuk istirahat dan sarapan, untung hostelnya ada dapur bersama jadi bisa masak mie instan buat sarapan he..he.. Ga nyampe 10 menit kemudian si resepsionisnya ke lobby dan menyerahkan Swiss Pass kami. Alhamdulillah akhirya ketemu, dia bilang ketemu ditempat ya ga terduga. Semangat kami langsung menggelora lagi buat jalan-jalan he..he.. Selagi di lobby saya tetap berkomunikasi via masengger dengan Pak Krisna. Lalu Pak Krisna bilang cuaca hari ini tidak mendukung buat ke Mt.Titlis karena mendung dan berangin takutnya cable car Titlis tidak beroperasi karena angin kencang. Pak Krisna menyarankan saya ke Mt.Rigi saja yang tidak jauh dari Luzern. Pak Krisna juga berbaik hati mengajarkan saya cara ke Rigi dari Luzern transportasinya apa saja. Wah benar-benar membantu sekali, terima kasih Pak Krisna.
Luzern nan cantik.
Setelah sarapan dan bersih-bersih kami menitipkan koper lalu lanjut ke stasiun. Sebelum memutuskan mau kemana, kita mampir dulu ke tourist information yang ada di stasiun Luzern buat nanya-nanya. Mbak-mbak di tourist information juga tidak menyarankan kami pergi ke Mt.Titlis hari ini karena cuaca tidak mendukung. Hebatnya lagi dia bisa menunjukkan video keadaan Titlis saat itu ke kami dari kamera satelit yang ada disana. Tampak jelas, cuaca sangat tidak bersahabat. Lalu kami bertanya bagaimana kalau ke Mt.Rigi. Dia lebih menyarankan ke Rigi karena cuaca di Rigi mungkin tidak seekstrim Titlis karena puncak Rigi lebih rendah. Dan kami tidak perlu mengeluarkan biaya lagi karena bagi yang memiliki Swiss Pass gratis naik transportasi sampai ke puncak Rigi. Akhirnya dia memberikan kami peta ke Rigi dan penjelasan transportasi untuk sampai ke puncak gunung Rigi.
Semangat mau naik gunung.

Seger..
Untuk mencapai Rigi, kita dari Luzern mesti pergi ke Vitznau yaitu desa dikaki gunung Rigi. Untuk ke Vitznau ada 2 cara naik kapal feri melalui danau atau naik kereta api. Karena perjalanan dengan kapal feri cukup memakan waktu, akhirnya kami memutuskan naik kereta api ke Vitznau. Soalnya kami sudah cukup kesiangan sedangkan Funicular dan Cable Car Rigi hanya beroperasi sampai sore. Di kereta api kami bertanya ke beberapa orang untuk memastikan bahwa kami naik kereta yang benar dan berapa stasiun lagi kami mesti turun, tapi ternyata banyak warga sana yang tidak bisa berbahasa Inggris. Alhamdulillah saat dikereta itulah Tuhan memberikan kami malaikat penyelamat seorang kakek datang menghampiri kami. Dengan bahasa Inggris yang fasih dia memberitahu nanti kalian ikut saya saja, saya tinggal di Vitznau, dan nanti saya pandu kalian sampai naik bus untuk sampai ke pemberhentian Funicular Rigi.

Benaran setelah sampai di Vitznau kakek ini mengajak kami berdua turun dan menunjukkan tempat pemberhentian bus untuk ke Funicular Rigi. Tidak sampai disana beliau juga mendatangi supir bus nya untuk menjelaskan tentang kami, agar si supir bus nanti menurunkan kami distasiun funicular Rigi. Ya Allah sungguh baik kakek ini, mau membantu kami. Dia juga menjelaskan sedikit tentang desanya dan Rigi, kami juga bercerita tentang Indonesia yang panas dengan pantai yang indah he..he.. Traveling bukan hanya membuka mata, tapi juga membuka hati dan jiwa atas kebaikan-kebaikan yang kita terima selama diperjalanan.
Ini si Kakek baik hati yang bantu kita sampai di Vitznau.
Selama didalam bus pemandangan sudah cantik, tak terasa 30 menit kemudian supir bus menurunkan kami di depan stasiun funicular Rigi. Karena masih ada waktu beberapa menit, sebelum funicularnya berangkat, kita foto-foto dulu disini. Indah banget pemandangannya ada danau dan gunung bersalju disekitar kami.
So Happy I'm Here..

Stasiun funicular Mt.Rigi.

Indahnya.
Sekitar 15 menit kemudian petugas funicular mempersilakan kami masuk ke atas kereta sambil men-cek tiket Swiss Pass kami. Lalu tidak lama setelah itu funicular membawa kami naik ke puncak gunung Rigi. Perlahan tapi pasti funicular yang kami tumpangi mulai miring mengikuti kontur tanah gunung yang mendaki. Pemandangan benar-benar spaktakuler, mulai dari pepohonan hijau, danau yang terlihat dari jejauhan dan puncaknya saat kami melihat salju asli untuk pertama kalinya. Semua yang berada didalam funicular berdecak kagum dengan view yang ada. Semakin tinggi salju semakin tebal sampai akhirnya kami melihat salju turun dan bertebangan mengenai jendela funicular kami. Saya dan suami benar-benar takjub melihat salju turun dan sekeliling berubah jadi putih.
Yuk kita ke puncak Rigi.

View saat didalam funicular rigi.

Salju..

Suasana didalam funicular.
Sesampainya di pemberhentian funicular di Rigi Kulm kami segera turun. Angin kencang langsung menerpa kami, tapi karena terlalu senang melihat salju dimana-mana kami tidak peduli. Saya seperti anak kecil yang kegirangan. Saat berjalan diatas salju kita mesti berhati-hati karena licin, kami beberapa kali tergelincir, untung ga sampai jatuh & cedera. Kami juga melihat turis-turis lain berjatuhan karena licinnya jalan menuju puncak Rigi. Saya puas-puasin foto disini, tapi makin lama angin semakin kencang dan badan saya mulai menggigil kedinginan. Jadinya kami sudahi kesenangan kami bermain salju dan berteduh di toko souvenir yang ada di sana.
Kabut menyambut saat kami sampai.

Pertama kalinya menyentuh salju asli he..he..

Hati-hati tergelincir sayang.

Menuju puncak, keliatan susahnya orang-orang dibelakang Bang Tomi lagi jalan.

Do you want to build the snowman.
Setelah 1 jam berada di puncak Rigi, sore itu kami turun dengan funicular kembali ke desa Vitznau. Cuaca semakin memburuk sore itu, salju dan angin kencang. Saat funicular berhenti di pusat cable car, saya dan suami memutuskan untuk tidak jadi naik cabel car untuk turun karena mengingat angin yang cukup kencang dan badan juga kedinginan menahan udara dingin. Jadinya kami tetap duduk di funicular sampai tiba dibawah.
Babak belur diterpa badai salju.
Tadinya kami ingin naik kapal feri untuk balik ke Luzern, tapi ternyata feri berikutnya baru datang jam 6 PM, sedangkan waktu masih pukul 4.30 sore. Karena malas menunggu lama dibawah rintik hujan, kami putuskan untuk kembali ke Luzern dengan bus dan kereta seperti tadi. Niatnya agar kami masih punya banyak waktu untuk keliling kota Luzern.
Kedinginan didalam funicular saat turun.

Menunggu kereta di stasiun Vitznau untuk kembali ke Luzern.
Tiba di Luzern kami ke hostel dulu untuk check in dan istirahat sebentar. Setelah itu kami mulai berjalan-jalan di kota Luzern. Tempat pertama yang kita kunjungi adalah Lion Monument yang menjadi salah satu tourist atraction di Luzern. Lion Monument ini dibangun untuk mengenang prajurit Swiss yang gugur dalam Revolusi Perancis. Jadi saat terjadi Revolusi Perancis, kerajaan Perancis (Louis XVI) meminta bantuan pertahanan dari prajurit Swiss. Disaat itulah banyak prajurit Swiss yang gugur, untuk mengenang hal itu dibangunlah monumen ini.
Lion Monument.
Setelah dari Lion Monument kami putar-putar kota untuk mencari toko souvenir, tapi sayang sekali karena besok Jumat Paskah jadinya toko-toko tutup lebih awal. Kami putuskan untuk ke Chapel Bridge. Chapel Bridge adalah jembatan kayu di Luzern yang dibangun sejak ratusan tahun yang lalu. Walaupun sudah tua, jembatan ini masih terawat dan sangat cantik berdiri diatas danau Luzern. Kami sangat menikmati ketika berjalan diatas chapel bridge ini. Walau gunung-gunung salju disekeliling kami tidak terlihat karena kabut senja itu, tapi pemandangan angsa dan bebek yang sedang asyik bermain didanau Luzern yang bening, serta suasana kota yang nyaman bikin kami betah berlama-lama di atas chapel bridge. Setelah puas di Chapel Bridge, kami lalu ke supermarket yang ada di stasiun Luzern. Disana kami membeli cemilan untuk dimakan diatas kereta besok. Karena besok pagi kami akan melanjutkan perjalanan kami ke Milan Italia.
Chapel Bridge.

Suasana danau Luzern.

Abang sedang asyik liat bebek dan angsa di danau Luzern.
Jika ada yang bertanya kepada saya, kota manakah yang paling berkesan dan paling cantik buat saya selama Euro Trip ini. Tanpa ragu saya akan menjawab kota itu adalah Luzern sekitarnya. Saya jatuh hati di Luzern dan saya berharap suatu saat bisa kembali ke kota kecil nan indah ini dan punya waktu yang cukup lama untuk menikmati keindahan alamnya. Walau saya belum berkesempatan mengunjungi Mt.Titlis, tapi saya sudah sangat beruntung bisa sampai di Luzern dan naik ke puncak Mt.Rigi. Niatnya ke Mt.Titlis memang buat main salju, dan itu kesampaian di Mt.Rigi senangnya lagi saya ga perlu mengeluarkan uang lebih banyak untuk menikmati hamparan salju. Karena saat saya datang salju di Mt.Rigi belum mencair dan masih sangat tebal, malah bisa merasakan ketika salju turun dari atas langit he..he.. Inilah senangnya traveling mandiri, kadang memang perjalanan kita tidak bisa sesuai dengan rencana karena faktor cuaca dll. Tapi disaat itu juga kita bisa memilih alternatif lain yang sama menguntungkannya jadi jangan kalah dengan keadaan, beradaptasilah dengan keadaan dan kondisi yang ada. Next saya bakal cerita perjalanan saya ke Milan dan pertemuan nostalgila saya dengan seorang sahabat lama yang sudah lama tak bertemu.

Semoga bermanfaat..!!

Pengalaman Hunting Aurora Yang Sangat Berkesan di Tromso Untuk Kedua Kalinya.

  Hai Miss Aurora. Kalian uda baca pengalaman hunting aurora saya pertama kalinya di Tromso belum? Kalau belum silakan baca disini ya. Soal...